Generasi Sekarang Butuh Cara Berbeda untuk Pahami Pancasila

Sosialisasi Pancasila kepada ISRI, di Yogyakarta, Sabtu (14/12/2019). (dok. kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Pancasila sebagai dasar Negara merupakan hasil rumusan kompromi perjanjian moral yang luhur dari para pendiri bangsa Indonesia

Hal tersebut sebagaimana disampaikan Wakil Ketua Umum (Waketum) Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI), Tarto Sentono dalam Sosialisasi Pancasila kepada ISRI, di Yogyakarta, Sabtu (14/12/2019).

“Kita sebagai pengawal Pancasila, marilah bersama-sama menjaga agar kompromi itu tidak berubah,” kata Tarto.

Baca Juga:  Pengurus Baru LKB HMI Yogya Diharapkan Kedepankan Idealisme

Sebab sejatinya, menurut Tarto, Pancasila sebagai asas damai kemanusiaan, asas kesatuan melalui persatuan, asas pergaulan masyarakat dengan keadilan sosial.

Pakar Pendidikan, Wuryadi mengungkapkan, Presiden Soekarno menggunakan cara berpikir ilmiah dalam merumuskan sila-sila dalam Pancasila ketika itu. Sila yang pertama dirumuskan adalah sila persatuan, kemudian sila kemanusiaan, sila kemasyarakatan, sila keadilan, dan baru sila Ketuhanan.

“Cara berpikir Pancasila itu merupakan cara penggalian kebudayaan dan kehidupan masyarakat Indonesia,” tegas mantan Dewan Pendidikan DIY ini.

Baca Juga:  Soal Haris Azhar, Polri dinilai kebakaran jenggot

Namun, Wuryadi menganggap, mahasiswa maupun pelajar sekarang tidak bisa lagi mengikuti cara berpikir ilmiah tersebut. Oleh karenanya, diperlukan setidaknya tiga aksi dalam memberikan pemahaman Pancasila kepada generasi sekarang.

Tiga aksi yang dimaksud adalah pendidikan rakyat, menggalang persatuan untuk merdeka, bersatu dan bedaulat, serta menuju kesejahteraan yang adil dengan bermodal kekayaan Sumber Daya Alam Indonesia.

Sementara Direktur Pembudayaan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Irene Camelyn Sinaga juga berpendapat bahwa untuk membudayakan Pancasila di masyarakat, maka dibutuhkan cara-cara berbeda. Diantaranya, melalui keteladanan, dan kehidupan berbangsa. (Rep-01)