GKR Hemas Prihatin Batik “Printing” di Yogya

Ketua Dekranasda DIY, GKR Hemas saat membuka Gebyar Batik Bantul 2018 “Road to Jogja International Batik Binnale 2018”, di Gedung Pendapa Parasamya Bantul, Jumat (31/8/2018). (sutriyati/kabarkota.com)

BANTUL (kabarkota.com) – Sejak 2 Oktober 2009 lalu, UNESCO menetapkan batik warisan dunia dari Indonesia. Lima tahun kemudian, Yogyakarta juga ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia oleh Dewan Kerajinan Dunia atau World Craft Council (WCC).

Di satu sisi, penetapan tersebut membanggakan, sekaligus menjadi tanggung-jawab besar khususnya bagi Yogyakarta untuk mempertahankan gelar sebagai Kota Batik Dunia. Termasuk mengajak kota-kota batik di Indonesia untuk turut berpartisipasi dalam Gebyar Batik, yang akan digelar pada 2-3 Oktober 2018 mendatang.

Namun di sisi lain, Ketua Dewan Kerajinan Daerah (Dekranasda) DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas mengaku prihatin dengan masuknya batik-batik printing di Indonesia, utamanya Yogyakarta, yang kemudian penjualannya dicampur-adukkan dengan batik tulis. Padahal, batik Yogyakarta memiliki nilai histori tersendiri.

Keprihatinan tersebut disampaikan permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono X ini saat membuka Gebyar Batik Bantul 2018 “Road to Jogja International Batik Binnale 2018”, di Gedung Pendapa Parasamya Bantul, Jumat (31/8/2018).

“Saya berharap kepada Pemda kalau bisa yang menjual batik printing diharapkan punya kesadaran memisahkan antara batik printing dan batik tulis, pada saat dijual,” ucapnya.

Dengan begitu, menurutnya, akan mengedukasi masyarakat tentang perbedaan batik printing dan batik tulis. “Karena selama ini, kita tidak pernah paham batik yang tulis dan yang printing,” sesal istri Gubernur DIY ini.

Jika memungkinan, lanjut GKR Hemas, nantinya Pemda bisa membuat aturan, seperti surat edaran kepada toko-toko di sepanjang Malioboro agar juga memisahkan penjualan batik tulis dan batik printing. Mengingat, batik-batik yang masuk ke kawasan Malioboro tidak hanya produksi DIY, tapi juga berbagai daerah, seperti Lasem, Pekalongan, Cirebon, dan Madura.

Dengan pemisahan itu, imbuhnya, produksi batik tulis nilainya bisa naik, serta bisa untuk mengenalkan pasar pada batik yang sebenarnya.

Tinjau stand Pameran, GKR Hemas Borong Batik Warna-warni

Usai membuka kegiatan yang berlangsung mulai 31 Agustus – 2 September 2018, satu-satunya senator perempuan asal DIY ini juga diajak meninjau stand-stand pameran, yang menawar produk batiknya masing-masing.

Pada kesempatan tersebut, GKR Hemas sempat membeli beberapa potong batik motif warna-warni di stand milik warga Dusun Bergan, Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, DIY.

“Karena saya belum pernah lihat motif yang seperti itu, jadi saya beli,” ungkapnya saat ditanya kabarkota.com.

Salah satu pembatik asal Wijirejo, Siti Nuriyah menyatakan sangat bersyukur karena produknya diborong istri orang nomer satu di DIY. “Saya senang sekali karena seumur-umur baru bertemu Kanjeng Ratu dan Alhamdulillah diberi rejeki banyak,” ujar dengan wajah berseri-seri.

Pembatik asal Wijirejo lainnya, Aisyah Yunanto menyebutkan, kain batik yang dipilih GKR Hemas, antara lain dua potong kain batik motif kontemporer, dua potong kain sriwid motif blarak slengkleh, dan satu potong kain cap kombinasi ukuran tiga meteran, dengan total harga hampir mencapai Rp 1 juta.

Keduanya menjelaskan, selama ini, pihaknya memang mulai memproduksi batik-batik dengan motif baru yang warna-warni guna menarik konsumen, khususnya kalangan anak muda. Untuk pemasaran, selain di DIY, kain batik buatan mereka juga telah dijual ke berbagai daerah di Indonesia, serta ke beberapa negara manca.

Terkait serbuan batik printing di pasar DIY, keduanya menganggap hal tesebut tak terlalu berpengaruh bagi penjualan batik karya mereka.

Pengrajin Batik Bantul Terbanyak di DIY

Sementara Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bantul, Tri Saktiana menambahkan bahwa pengrajin batik di Bantul merupakan yang terbanyak di DIY.

“Batik satu-satunya kain yang dapat bercerita dan berdoa. Filosofi di balik kain batik itulah cerita dan doa,” anggap Tri. Lebih lanjut pihaknnya mengimbau agar produk batik di Bantul tetap memperhatikan aspek kultural dan enviromental atau lingkungannya.

Event yang akan digelar selama tiga hari ini, selain menampilkan pameran produk batik, juga lomba desain & fashion, bazaaar, pertunjukan hiburan, fashion show, workshop “Ayo Membatik”, dan talkshow dengan tema batik. (sutriyati)