Hilmar Farid: Peristiwa 65 Itu Ketakutan yang Dibuat Sendiri

diskusi dan bedah buku “Memoar Pulau Buru” karya Hesri Setiawan di Fisipol UGM, Jumat (11/3/2016). (januardi/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com)- Direktur Jendral Kebudayaan, Hilmar Farid menilai, ketakutan yang timbul saat membicarakan atau menyinggung tentang peristiwa 65 adalah buah dari apa yang telah diwariskan oleh Orde Baru (Orba). Orba, anggap Farid, adalah pelaku sekaligus pencipta ketakutan tersebut, yang kemudian menanamkannya pada generasi setelahnya.

“Tapi sekarang mulai terlihat anak-anak muda yang bangkit melawan ketakutan itu,” kata Farid, dalam diskusi dan bedah buku “Memoar Pulau Buru” karya Hesri Setiawan di Fisipol UGM, Jumat (11/3/2016).

Baca Juga:  LBH SIKAP Yogya Dorong Realisasi Perda Bantuan Hukum

Bagi Farid, Hesri yang merupakan mantan tahanan politik Orba di Pulau Buru, adalah penghubung antara generasi lama dan generasi muda yang tidak lagi merasa takut.
“Ia berkontribusi untuk mengikis segala ketakutan yang telak merasuki diri pribadi dan kolektif,” ujarnya.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Komisioner Komnas HAM, Roichatul Aswidah menganggap, lahirnya buku-buku yang membahas tentang tragedi 65 merupakan salah satu bentuk rekonsiliasi yang bisa ditempuh untuk mengatasi kejahatan kemanusiaan.

Baca Juga:  Kontroversi Buku Ajar MTs, Ketua PB NU: Ajari Siswa Cinta Damai

“Perbedaan kejahatan kemanusiaan biasa dan kejahatan HAM yaitu dilakukan secara sistematis dan meluas. Kejahatan yang dilegalkan. Dan kejahatan pada peristiwa 65 termasuk ke dalamnya,” kata dia.

Roichatul menilai, tragedi 65 bukan saja hasil dari kejahatan orang-yang harus bertanggungjawab, tapi juga merupakan kesalah bangsa yang mendiamkan kejadian tersebut.

Akibatnya, lanjut Roichatul, kekerasan yang terjadi pasca 65 pun dianggap sesuatu yang normal. “Karenanya, itu harus ditundukan agar tidak menjadi normal. Tidak boleh atas nama kemanusiaan,” ucapnya.

Baca Juga:  Air Hujan bisa Dipanen untuk atasi Kekeringan saat Kemarau?

Untuk itu, ia menginginkan ada lebih banyak lagi karya-karya yang dapat menjadi pemantik untuk melawan kejahatan tesebut. Misalnya dibangun sebuah museum perjalanan panjang kejahatan HAM di Indonesia. (Ed-03)

Kontributor: Januardi