Ibu Kota akan Dipindah, Ini Lokasi yang Ideal versi Praktisi Lingkungan

Jumpa pers Profling terkait rencana pemindahan Ibu Kota, di Yogyakarta, Jumat (9/8/2019). (dok. kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Perkumpulan Profesional Lingkungan
seluruh Indonesia (Profling) menyambut baik rencana pemindahan Ibu Kota Negara dari Pulau Jawa ke Pulau Kalimantan.

Ketua Umum Profling, Tadiyanto Rohadi berpendapat bahwa perpindahan tersebut akan membawa efek domino bagi pemerataan pembangunan, pemerataan ekonomi, kestabilan sosial, politik dan budaya.

Pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke Kalimantan, kata Tardiyanto, juga akan menyelamatkan ekologi Jawa yang terancam collaps. Sementara Pulau Kalimantan relatif aman dari ancaman bencana alam, seperti gempa bumi karena pulau ini tidak termasuk dalam ring of fire.

“Kelemahan berupa potensi kebakaran lahan dan hutan yang kami pikirkan justru karena lebih dekat dengan pemerintahan, maka akan lebih terperhatikan dan semakin tertangani,” kata Tardiyanto kepada wartawan di Yogyakarta, Jumat (9/8/2019).

Hanya saja, pihaknya menganggap memang perlu ada kajian mendalam, khususnya dari sisi lingkungan.

“Di Pulau Kalimantan, lahan yang tidak subur itulah yang sebenarnya lebih ideal dipilih untuk daerah terbangun,” anggapnya.

Selain itu, idealnya sebuah kota juga memiliki minimal 30% ruang terbuka hijau sehingga bisa menjaga kualitas udaranya.

Sementara Ahli Lingkungan, Esrom H. Panjaitan memambahkan, pemindahan Ibu Kota akan mampu mengurangi polusi udara di Jakarta.

Berdasarkan data terakhir kualitas lingkungan hidup di Jakarta, semakin memperihatinkan. US Air Quality Index (AQI), pada 8 Agustus 2019, pukul 11.40 WIB mencatat, kualitas udara Jakarta di angka 156 kategori tidak sehat, dengan parameter PM 2,5 konsentrasi 64.4 µg/m³.

Esrom menjelaskan, PM 2,5 merupakan partikel atau debu buatan manusia dari pembakaran bahan bakar. Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), baru-baru ini juga menulis dampak pencemaran udara terhadap kesehatan. Diantaranya, ISPA, iritasi mata dan kulit, alergi, pneumonia, asma, bronchopneumonia, penyempitan saluran pernafasan, jantung coroner, kanker, gangguan fungsi ginjal, hingga kematian dini.

“Dengan perpindahan Ibu Kota itu pencemaran udara di Jakarta akan terurai karena berkurangnya aktivitas degan kendaraan bermotor,” imbuh Esrom.

Sedangkan di Ibu Kota baru nantinya, lanjut Esrom, bisa menggunakan kendaraan-kendaraan yang ramah lingkungan sehingga tidak terjadi pemindahan polusi udara. (Rep-01/Ed-02)