Indonesia, Negara nomor 3 paling Rentan terhadap Malware, Apa yang harus Dilakukan?

Presdir Microsoft, Haris Izmee (dok. CfDS)

SLEMAN (kabarkota.com) –
Center for Digital Society (CfDS) menyebut, Indonesia termasuk Negara nomor 3 paling rentan terhadap serangan malware.

Menurut data Frost & Sullivan, sebanyak 49% organisasi di Indonesia pernah mengalami serangan siber yang merugikan Indonesia sebesar US$ 43,2 miliar atau 3,7% dari total PDB Indonesia.

Hal tersebut salah satunya yang melatarbelakangi penyelenggaraan CEOTalk bersama Presdir Microsoft Haris Izmee, bertema Cybersecurity in Indonesia: Are We Ready for It ?, di Fisipol UGM, baru-baru ini. Acara ini juga dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan mengenai keamanan siber dan bagaimana cara mempersiapkan diri di era komputasi awan.

Mengingat, internet menjadi sarana berkomunikasi, sekaligus memenuhi beragam kebutuhan sehari-hari. Diantaranya, Cloud Computing sebagai media penyimpanan data. Namun, akhir-akhir ini marak terjadi serangan siber serta adanya penyalahgunaan data.

“Masa depan akan dipegang oleh mereka yang mampu untuk menjawab tantangan digital, di mana setiap hal dalam aspek kehidupan akan berubah menjadi terdigitalisasi atau terdisrupsi oleh Revolusi Industri 4.0,” Presdir Microsoft Haris Izmee.

Kemajuan digital yang saat ini dialami masyarakat, lanjut Haris, merupakan hasil dari Revolusi Industri 4.0 yang membawa digitalisasi produk. Untuk menanggapi kondisi ini, pemerintah mencanangkan Making Indonesia 4.0 yang bertujuan menghasilkan kualitas output yang lebih tinggi di sektor industri, dengan integrasi antara konektivitas dan teknologi informasi komunikasi.

Haris juga menyebut, dalam 10 Prioritas Nasional Making Indonesia 4.0, terdapat beberapa layer, diantaranya wearable tech, advanced robotics, 3D printing, Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT).

Oleh karena menyadari pentingnya digitalisasi dalam aspek kehidupan, maka Haris menambahkan, pemerintah dan korporasi sepakat bahwa transformasi digital merupakan prioritas utama. 90% dari mereka mengakui bahwa berpikir dan bertindak seperti bisnis digital merupakan kunci penting bagi pertumbuhan di masa depan, sedangkan 27 % pemimpin bisnis memiliki strategi transformasi digital yang direncanakan dengan matang.

“Digitalisasi juga akan berpengaruh pada aspek bisnis dan ekonomi secara luas, baik itu ke negara, pemerintah, organisasi bisnis dan masyarakat,” anggapnya.

Data menunjukkan, pada 2017 produk/layanan digital menyumbang 4% dari PDB Indonesia dan pada 2021 diperkirakan akan meningkat menjadi 40%. Namun di sisi lain, tingginya angka digitalisasi ternyata juga berdampak negatif. Salah satunya berupa serangan siber.

“Bagi Indonesia, taktik dan strategi keamanan siber yang efektif sangat diperlukan,” tegasnya. Keamanan siber harus menjadi bagian dari perencanaan transformasi digital Indonesia.

Selain itu, mewujudkan kesadaran akan keamanan siber dapat dimulai dari diri sendiri. Hal paling sederhana adalah dengan memahami pemanfaatan Internet of Things di sekitar untuk menjamin keamanan dari data dan privasi di dunia maya. Contohnya dengan mengganti kata sandi akun email dan media sosial secara rutin, serta memanfaatkan software yang resmi. (Ed-02)