Ini Harapan Disdikpora DIY untuk Kementerian Pendidikan yang Dipecah

Ilustrasi (sumber: kaskus.co.id)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY, Kadarmanta Baskara Adji berharap adanya kesinambungan pada proses pendidikan yang dilakukan Kementerian Kebudayaan, Pedidikan Dasar, dan Menengah dengan Kementeri Ristek dan Pendidikan Tinggi.

Sebab menurut Aji, kedua kementerian tersebut merupakan pecahan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di era pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).

Pihaknya mengaku, selama ini telah melakukan usaha kesinambungan dari pendidikan dasar, menengah hingga perguruan tinggi, melalui nilai rapot dan UN. Tujuannya, sebagai pertimbangan masuk ke Perguruan Tinggi.

"Supaya tidak ada penegasian dari usaha yang kami lakukan. Kami berharap langkah seperti ini bisa berjalan terus," kata kepada wartawan saat berziarah ke makam almarhum Soegondo Djojopoespito di Taman Wijaya Brata, Yogyakarta, Senin (28/10).

Sementara dari sisi kurikulum , sambung Adji, tidak ada kaitan dengan pemisahan kementerian. Hanya saja,  hal yang perlu pemerintah dilakukan terkait dengan pembenahan kurikulum yang baru.

“Perubahan itu dapat dimulai dengan pembenahan distribusi bahan ajar yang hingga kini belum selesai,” ungkap Aji.

Di DIY, Aji mencontohkan, distribusi buku bahan ajar yang sudah selesai baru di tingkatan SD. Sedangkan untuk tingkat SMP dan SMA/SMK belum semua tersalurkan, terutama di wilayah kota Yogyakarta.
 
Aji berpendapat, jika ada perubahan, semestinya tidak pada substansi kurikulum yang telah berjalan, melainkan pada pelaksanaannya.

Sementara, Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah, Anies Baswedan menganggap perlu adanya perspektif baru di kementriaannya, dengan mendorong transparansi dan kolaborasi.

“Dengan itu, maka kepercayaan publik pada kementerian dapat meningkat. Sebab, salah satu masalah utama di negeri ini adalah kepercayaan yang rendah pada pemerintah ” kata Anies dalam rilisnya yang diterima kabarkota.com melalui email, Senin (27/10).

Penggagas Gerakan Indonesia Mengajar dan Kelas Inspirasi ini juga menganggap, pendidikan bukan hanya masalah sektoral, melain juga urusan nasional. Oleh karenanya,  pendidikan harus menjadi gerakan semesta, yang membutuhkan keterlibatan semua pihak untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di dunia pendidikan.

AHMAD MUSTAQIM/SUTRIYATI