Ini Konsep Unik Mobel Shelter karya Mahasiswa UII

Ilustrasi: konsep Mobel Shelter karya mahasiswa UII (sumber: uii.ac.id)

SLEMAN (kabarkota.com) – Shelter darurat bagi para korban bencana alam umumnya dibuat semi permanen dengan material bambu yang cenderung kaku. Karenanya, hunian sementara tersebut memiliki keterbatasan waktu pemakaian, dan tidak bisa lagi dipakai ulang.

Namun, tiga mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) yang baru-baru ini menerima beasiswa unggulan BPKLN, Ahmad Faiz Abiyoso, Pahruroji dan Faridatuz Zuhroh berhasil membuat konsep unik yang mereka namakan mobel shelter.

Salah satu penerima beasiswa BPKLN, Ahmad Faiz Abiyoso menjelaskan Mobel Shelter ini singkatan Modular and Portabel yang menjadi ciri khas utama dari rancangan mereka. Keunikannya, Mobel Shelter ini bentuknya ringkas, mudah disusun, dan bisa digunakan ulang.

Baca Juga:  Mengatasi Krisis Ekonomi (Bagian-2)

“Dalam situasi tanggap darurat, pendekatan modular sangat relevan karena pengungsi membutuhkan shelter yang bisa cepat dibangun. Sementara,untuk shelter semi permanen dari bahan bambu, membutuhkan tenaga tukang yang ahli di bidang tersebut sehingga memakan waktu yang cukup lama,” kata ahmad Faiz, baru-baru ini.

Sedangkan Faridatuz  Zuhroh memaparkan bahwa konsep portabel yang mereka tawarkan ini, guna menjawab kekakuai dari shelter lain yang tidak dapat dipindah tempatkan, serta terkesan menciptakan sekat-sekat yang justri membelenggu psikologis para pengungsi.

Baca Juga:  KPK Bidik Kasus Pemilihan Rektor tak Transparan

“Dengan konsep portabel ini, para pengungsi dapat  mendiskusikan bagaimana mobel shelter ini akan didirikan sesuai dengan kebutuhan komunitas merekam” ungkapnya.

Selain itu, bahan pembuatan shelter model ini juga relatif tahan lama karena dapat  dibongkar, disimpan, dan dipergunakan kembali sewaktu-waktu.

 “Estimasi kami, umur shelter dapat mencapai lebih dari 10 tahun asalkan disimpan dan dirawat dengan baik”, tambah Faridatuz.  

Hanya saja, untuk pembuatan satu unit shelter jenis ini, dibutuhkan biaya sekitar 7 juta rupiah. Sedangnkan untuk produksi massal, biaya bisa ditekan hingga 5 juta rupiah.

Sementara, Pahruroji menambahkan, guna mempermudah cara pendirian shelter, pihaknya juga  melengkapi shelter dengan buku saku tentang pedoman manual pendirian shelter yang mudah dipahami.

Baca Juga:  Papua Gunung vs Papua Pantai: Sebuah Kritik dari Orang Pribumi

“Kami sengaja mendesain konsep shelter ini sedemikian rupa agar mudah disusun oleh siapa pun, meski bukan tenaga ahli bangunan, bahkan para pengungsi pun dapat diajari dan dilibatkan untuk menyusun shelternya sendiri”, sebut Pahruroji.

Dengan keunikan tersebut, para mahasiswa ini berniat untuk menggandeng BNPB dalam melihat peluang untuk memproduksi mobel shelter secara terbatas.  Jika implementasi berjalan lancer, lanjut mereka, maka tidak menutup kemungkinan mobel shelter dapat diadopsi sebagai shelter standar nasional untuk korban bencana di Indonesia. (uii.ac.id)