Ini Usulan Terbaru Komnas Anak Soal Metode Perlindungan Anak

Konferensi pers di kantor Yayasan Lembaga Perlindungan Anak (YLPA) Yogyakarta (3/11/2016) (Anisatul Umah/kabarkota.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) menyoroti tingginya kekerasan terhadap anak. Dewasa ini predator kekerasan anak tidak hanya dilakukan oleh orang tua saja, namun juga dilakukan oleh anak kepada anak.

Ketua Komnas Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait mengatakan kejahatan seksual terhadap anak kini tidak hanya dilakukan orang perorangan. Namun kejahatan seksual kepada anak kini dilakukan secara bergerombol dengan satu korban sejak dua tahun belakangan.

Aris mencontohkan kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Yuyun (14) di Bengkulu yang dilakukan oleh 14 pelaku. Kekerasan pada anak, tambah Aris, perlu diputus mata rantainya. Perlindungan anak sekampung salah satu solusi yang ditawarkan Komnas Anak.

Baca Juga:  Top D'WE: Pupuk Organik Formula Baru, Inovasi Anggota Maporina Yogya

“Perlindungan anak sekampung penting dilakukan untuk memutus mata rantai kekerasan pada anak,” ungkap Aris dalam konferensi pers di kantor Yayasan Lembaga Perlindungan Anak (YLPA) Yogyakarta (3/11/2016).

Dengan adanya undang-undang desa, metode perlindungan anak sekampung dapat dilakukan dengan memanfaatkan dana desa. Bekerjasama dengan kepala desa, karang taruna, Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), dan organisasi desa lain perlindungan anak sekampung dapat dilaksanakan.

“Perlindungan anak sekampung kita integrasikan dengan UU Desa. Sehingga kepala desa bisa mengeluarkan peraturan desa terkait perlindungan anak,” paparnya.

Baca Juga:  Bekakak akan "Melintas", Hati-hati di Titik ini Bakal Macet

Ketua Umum Yayasan Lembaga Perlindungan Anak (YLPA) Yogyakarta, Sari Murti W. Mengatakan bahwa kasus kekerasan seksual di Yogyakarta mencapai 34 kasus, kekerasan fisik dan pencurian masing-masing 22 kasus selama tahun 2016. Kekerasan yang dilakukan anak tidak hanya karena perilaku nakal dari anak, namun justru dilatarbelakangi konflik di dalam keluarga.

“Kedepan dalam menghentikan sumber masalah adalah keluarga. Bagaiamana keluarga mengasuh dan memberi nilai-nilai baik kepada anak,” jelas Sari.

Baca Juga:  Kekerasan Anak Marak, Masyarakat Dewasa Harus Berubah

Perlindungan terhadap anak dapat dimulai dari keluarga, kampung, kemudian ke institusi hukum. Sari juga mengamini pernyataan Aris terkait perlindungan anak sekampung. Dengan memanfaatkan dana desa, pemerintah desa bisa mengalokasikan untuk perlindungan anak.

“Masyarakat perlu peduli dan berani lapor,” pungkasnya. (Rep-04/Ed-01)