Jelang 1 Suro, Paguyuban Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Gelar Lampah Budaya Mubeng Beteng

Ilustrasi (dok. suara.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Paguyuban Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar “Lampah Budaya Mubeng Beteng”, pada Selasa (11/9/2018) malam ini. Lampah Budaya ini guna menyambut datangnya Tahun Baru Jawa 1 Surya 1952 Be yang jatuh pada tanggal 12 September 2018 besok.

Seksi acara Lampah Budaya, Widihasto Wasana Putra menjelaskan, mubeng beteng merupakan tradisi yang diinisiasi oleh abdi dalem atau masyarakat yang diakomodir oleh Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, sejak tahun 1980-an.

“Jadi mubeng beteng malam 1 Suro (surya) itu sebenarnya bukan hajatan resmi kraton seperti grebeg atau labuhan,” kata Widihasto kepada kabarkota.com, 10 September 2018.

Menurutnya, kegiatan itu diadakan oleh Paguyuban Abdi Dalem untuk menanggapi usulan-usulan masyarakat secara pribadi, karena sejak dahulu , setiap malam 1 Suro, masyarakat Jawa melakukan tirakat , mubeng beteng, untuk ngalap berkah.

“Daripada mubeng beteng sendiri-sendiri, maka diusulkan menjadi kegiatan Paguyuban Abdi Dalem sampai sekarang,” imbuhnya.

Dalam kegiatan tahunan ini, selain para abdi dalem kraton, masyarakat umum yang tak hanya datang dari Yogyakarta juga mengikuti lampah budaya ini. “Masyarakat umum bisa ikut mubeng beteng. Hanya saja syaratnya satu, tidak boleh bicara selama mubeng beteng,” tegasnya.

Jika para abdi dalem dan masyarakat yang bertugas wajib mengenakan busana peranakan, lanjut Widihasto, maka untuk masyarakat umum dibebaskan dalam berbusana.

Pihaknya memperkirakan lama perjalanan sekitar 1.5 jam, dengan jarak tempuh sekitar 3.6 km. Mulai dari Keben Kraton – Kampung Kauman – Ngabean – Jalan Wahid Hasyim – pojok beteng kulon – pojok beteng wetan – Jl. Brigjen Katamso – Jalan Ibu Ruswo – alun-alun utara – PDHI – Masjid Gedhe Kauman – kembali keben Kraton.

“Rutenya berlawanan arah jarum jam. Keluar dari kraton, jalannya ke kiri… Itu laku refleksi, laku rohani, laku spiritual. Kalau ke kanan (arah jarum jam) itu untuk laku penobatan raja, arak-arakan putri raja, karena itu arak-arakan duniawi,” ungkapnya.

Bagi generasi sekarang, Widihasto berpendapat bahwa mubeng beteng ini memiliki pesan moral yang sangat penting, agar orang bisa menjaga ucapan, sikap, dan perilakunya, karena ini sebenarnya pengendalian diri, saat 1.5 jam berjalan kaki tanpa berbicara.

“Pelajarannya adalah bagaimana orang itu bisa bicara efektif, dan berpikir dahulu sebelum berbicara. Ini senyampang dengan fenomena sekarang dengan maraknya ujaran kebencian, dan hoax. Kalau orang terbiasa menata batin dan ucapannya, tentu tak akan mudah melakukan itu (ujaran kebencian dan hoax) di media sosial,” anggapnya. Sebab, menjaga ucapan dan perilaku itu merupakan bagian dari ajaran budaya Jawa.

Urutan kegiatan Lampah Budaya Mubeng Beteng

Ditambahkan Widihasto, kegiatan lampah budaya akan dilaksanakan pada pukul 24.00 WIB atau tepat tengah malam. Namun, untuk persiapan kegiatannya dimulai pukul 20.00 WIB.

Adapun urutan acaranya, seperti dilansir dari laman kratonjogja.id, adalah sebagai berikut:

Acara diawali dengan Macapatan di Bangsal Pancaniti, Pelataran Kamandhungan Lor Keraton Yogyakarta, mulai pukul 21.00 WIB. Kemudian sekitar pukul 23.30 WIB, seremoni kegiatan dimulai dengan kehadiran perwakilan kerabat kraton, dan sambutan-sambutan, termasuk dari Dinas Kebudayaan DIY yang juga dipusatkan di Pelataran Kamandhungan Lor atau yang sering disebut Keben.

Menjelang pemberangkatan, dilakukan penyerahan dwaja (bendera) yang terdiri dari bendera Merah Putih, bendera Gula Klapa(bendera Kasultanan), dan klebet Budi Wadu Praja(DI Yogyakarta). Disertakan juga lima bendera yang merepresentasikan kabupaten dan kotamadya, yakni klebet Bangun Tolak (Yogyakarta), Mega Ngampak (Sleman), Podang Ngisep Sari (Gunung Kidul), Pandan Binetot(Bantul), dan Pareanom (Kulon Progo).

Tepat pukul 24.00 WIB, rombongan lampah budaya mulai bergerak dari Keben, dengan ditandai bunyi lonceng sebanyak 12 kali. Para Abdi Dalem pembawa dwaja ada di barisan depan, diikuti oleh Abdi Dalem lainnya dan masyarakat umum.

MUI DIY: Islam tak Anti Budaya

Bagi Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY, Ahmad Muhsin Kamaludiningrat, mubeng beteng adalah bagian dari budaya, khususnya di Yogyakarta.

“Islam tak anti budaya,” ucap penghulu kraton Yogyakarta ini. Selama itu tidak bertentangan ajaran agama. Dalam arti niatnya baik, dengan mengembalikan kecintaannya pada Allah SWT. (sutriyati).