Joint mundur, Angka golput di kota Yogya terpengaruh?

Ilustrasi (sutriyati/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Batalnya Jogja Independent (Joint) mengusung bakal calon pasangan walikota dan wakil walikota Yogyakarta dari jalur non partai pada Pilkada 2017 nanti, mengundang kekecewaan sebagian masyarakat di wilayah tersebut.

Menurut pengamat Hukum Tata Negara Universitas Islam Indonesia (UII), Anang Zubaidy, kekecewaan tersebut bisa memicu angka golput pada Pilkada Kota Yogyakarta 2017 mendatang.

Loading...

“Saya menduga sebagian besar dari mereka tidak akan menggunakan hak pilihnya sehingga angka golput saya prediksi masih tinggi,” kata Anang, baru-baru ini.

Namun, Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Sigit Pamungkas menilai, partisipasi masyarakat itu digerakkan oleh banyak faktor. Sebab, tidak semata-mata karena faktor kandidatnya maju atau tidak, tetapi juga tergantung pada kemampuan berorganisasi partai atau calon untuk menggerakkan masyarakat.

“Boleh jadi, ketika calonnya tidak maju, tingkat partisipasi masyarakat masih tetap tinggi karena ada kampanye-kampanye, proses sosialisasi yang masif dilakukan oleh para kandidat,” kata Sigit kepada wartawan di Kantor KPU DIY, Kamis (4/8/2016).

Sigit menyebutkan, target partisipasi kami itu 77,25 persen secara Nasional atau naik 2,5 persen dari sebelumnya 75 persen pada Pilkada 2015 lalu.

“Pertimbangannya, supaya legitimasi pemerintahan kita kuat. Karena, semakin tinggi partisipasi, maka masyarakat itu semakin terlibat dalam proses politik. Jangan sampai menarik diri dari proses politik, seolah-olah tidak menjadi bagian dari proses yang ada,” pintanya.

Hal senada juga diungkapkan Kepala BP Pemilu DPC PDIP Kota Yogyakarta, Fokky Ardiyanto yang mengaku tetap optimis pembatalan tersebut tak akan banyak berpengaruh terhadap perolehan suara pada Pilkada mendatang. Terlebih, pihaknya berkomitmen untuk mengusung program-program yang sesuai dengan kebutuhan rakyat di kota, seperti menyangkut tata ruang dan transportasi.

“Kami berharap, jangan golputlah karena masa depan di Yogyakarta tergantung Pilkada yang merupakan mekanisme demokrasi dan disepakati bersama,” kata Fokky saat dihubungi kabarkota.com.

Terpisah, seorang warga Kota Yogyakarta, Rahmi Arifiana Dewi berpendapat, munculnya pasangan independen sebenarnya merupakan hal yang perlu sebagai penyeimbang pasangan calon dari parpol yang biasanya sudah mempunyai banyak tuntutan balas budi.

“Yang seperti itu (calon independen) juga lebih loyal ke daerahnya bukan ke partai,” anggapnya.

Ibu dua anak ini juga cukup menyayangkan batalnya Joint mengusung Garin-Rommy sebagai bakal calon dari jalur independen, pada Pilkada kota Yogyakarta 2017 mendatang.

Sementara ditanya terkait kemungkinan Golput, Rahmi mengaku, hingga belum menemukan sosok yang sesuai untuk ia pilih sebagai calon kepala daerah di Kota Yogyakarta. (Rep-03/Ed-03)