Jumlah Pasien Positif Corona Diklaim Turun, Pemkot Yogya tetap Masifkan Rapid Test

Ilustrasi (dok.setkab)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Ketua Harian Gugus Tugas Penanganan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi menyampaikan, dalam dua minggu terakhir, kasus pasien positif atau konfirm sekitar 2-7.

“Bahkan jika dilihat lebih dalam, maka tujuh kasus positif itu sebenarnya berada di tiga keluarga saja,” ungkap Heroe, Selasa (28/4/2020).

Sedangkan jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan Orang Dalam Pemantauan (ODP), menurut Heroe, angkanya juga cenderung menurun. Sekarang tercatat 8 kasus PDP dan angka ODP sekitar 60 – 75 kasus darisebelumnya 200 – 300 kasus di bulan Maret.

Namun demikian, Wakil Walikota Yogyakarta ini menekankan agar masyarakat tetap waspada dan hati-hati dalam menyikapi data tersebut. Sebab, tak menutup kemungkinan penurunan angka tersebut karena masyarakat sekarang mulai enggan untuk datang memeriksakan diri ke Rumah Sakit (RS) ataupun Puskesmas ketika mengalami gejala.

Baca Juga:  Kasus Positif Covid-19 semakin Banyak, Ini Respon Wakil DPRD DIY

Sementara bulan sebelumnya, karena kepanikan, sehingga masyarakat cenderung berbondong-bondong untuk periksa ke berbagai Fasilitas Kesehatan (Faskes) tersebut. Selama bulan Maret, lanjut Heroe, jumlah warga Yogyakarta yang memeriksakan diri ke Puskesmas dan RS tersebut sekitar 450 – 600 orang per hari .Hal ini terjadi karena saat itu penderita Covid-19 seperti menakutkan dan aib.

Namun sejak akhir Maret sampai sekarang, angkanya menurun drastis, hingga tinggal 75 – 100 orang per hari. Terlebih, angka kesembuhan pasien juga semakin meninggat, seiring pemahaman masyarakat terhadap penyakit ini.

Baca Juga:  Polda DIY: Sweeping Wewenang Polisi

“Bisa juga, orang tidak lagi datang ke faskes pemerintah, tapi ke klinik umum saja. Sehingga warga yg merasa ada gejala demam, batuk atau sesak napas, langsung isolasi sendiri saja. Dan tidak terdata dalam data pemerintah,” anggapnya.

Heroe berpandangan bahwa dalam posisi seperti ini justru berbahaya karena orang tidak lagi merasa sebagai PDP maupun ODP, serta cenderung abai untuk menerapkan jarak sosial maupun jarak fisik dengan orang lain. Padahal, transmisi lokal atau penularan dari lingkungan sekitar sudah terjadi.

“Jika fenomena kasus tersembunyi itu terjadi, maka kasus Covid-19 masih menjadi ancaman besar,” tegasnya.

Untuk itu, Heroe menyampaikan, pihaknya akan memperluas rapid tes, tak hanya bagi tenaga medis, tetapi juga masyarakat termasuk para pemudik.

Baca Juga:  Salah Kaprah Solusi bagi Buruh di Tengah Pandemi Corona?

Sebelumnya, Pemkot Yogyakarta telah melakukan120 rapid tes, dengan hasil 11 orang positif. Meskipun, hasil tersebut belum tentu yang bersangkuntan benar-benar terkonfirmasi positif Covid-19, sehingga perlu pemeriksaan lebih lanjut, dan pengulangan tes PCR.

Harapannya, dalam minggu ini, pihaknya akan memperoleh gambaran data faktual yang bisa digunakan memprediksi berapa lama kasus covid 19 itu bisa teratasi.

Heroe juga menilai, jika larangan mudik dan liburnya berbagai moda transportasi untuk angkutan umum bisa berjalan efektif, maka mata rantai sebaran Covid-19 di Kota Yogyakarta bisa segera putus. Di samping itu, masyarakat juga harus tetap menerapkan protokol kesehatan guna mencegah Covid-19. (Rep-02)