Kaum Terpelajar, Bergeraklah!

Ilustrasi (dok. riauonline)

(kabarkota.com) – Hidup adalah pertempuran baik melawan buruk. Dalam diri kita bersemayam akal, nafsu dan perasaan. Akal mengedepankan logika, nafsu kedepankan ambisi, sedangkan perasaan menekankan kejernihan hati.

Hatilah yang mengendalikan manusia agar berperasaan dan berperangai baik. Sebaliknya, akal dan nafsu apabila tidak terkendali akan menuntun kita pada keburukan.

Maka pandai-pandailah merawat dan mengelola hati. Sebab, orang yang demikian pandai merawat dan mengelola hati, dinilai sudah selesai dengan dirinya sendiri. Ia mampu menundukkan akal dan nafsu yang tak terkendali. Karena sungguh hati takkan pernah bisa bohong.

Dalam konteks kehidupan nyata maupun dunia maya, banyak perilaku kurang ajar yang itu justru dilakukan oleh orang-orang terpelajar. Bahkan, semakin berilmu, malah semakin kelewat batas perilakunya. Merampok uang rakyat, melakukan tindakan kriminal, membohongi publik, mengeluarkan ‘dalil’ akademik yang merugikan dan beragam perilaku kurang ajar lainnya. Peran hati seolah terkikis oleh akal dan nafsu.

Di sini penulis sepakat dengan petuah Tan Malaka; yang sederhananya, lebih baik pendidikan tidak usah diberikan kepada kaum terpelajar jika pada akhirnya digunakan untuk menindas dan berjarak.

Dalam pandangan penulis menindas adalah membohongi hati-nurani. Sedangkan berjarak adalah mengabaikan realitas sosial. Keduanya tidak boleh dilakukan oleh seorang terpelajar.

Hati yang tulus-ikhlas, membangun barisan yang kokoh, melantangkan suara dan bergerilya memperjuangkan kebaikan. Semua itu harus disampaikan kaum terpelajar kepada siapapun pelaku penindasan; bukan malah menjadi bagian destruktif.

Mahasiswa harus bisa me-monitoring peran penguasa baik di kampus kampus hingga level negara, supaya “check and balance” tetap berjalan. Memastikan penguasa mengelola negara tidak serampangan.

Peran dosen, peneliti, dan segenap masyarakat terdidik ialah sebagai pencerah masyarakat, sekaligus pengontrol penguasa. Supaya kaki mereka tidak rapuh untuk menopang beban amanah yang teramat besar.

Masyarakat terdidik memiliki pengetahuan yang memadai guna menyelesaikan persoalan sosial. Karena pendidikan menjamin ketersedian pengembangan Ilmu.

Ilmu itu tidak boleh berhenti pada segelintir orang saja, apalagi terbatas pada tumpukan tulisan di jurnal. Ilmu harus berupa amaliah yang mampu menggembirakan banyak orang. Sedangkan amal dilaksanakan secara ilmiah supaya dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Dalam proses inilah hati dan olah rasa yang membuat kita arif nan bijaksana dalam menghadapi persoalan; menjadikan kita waskita.

Fungsi memperjuangkan oleh kaum terdidik yang secara tegas bicara tentang keberpihakan harus mengudara ke segala arah, bahkan ke celah-celah terkecil sekalipun. Maksudnya, ketika bicara soal memperjuangkan, kita tidak hanya bergerak di ranah kebijakan, seperti pembuatan Undang-undang. Di sini, mendengar keluh-kesah, rintih dan jerit tangis para kaum mustadafin adalah upaya yang harus terus-menerus digencarkan sebagai bagian dari memperjuangkan.

Orang yang tak memiliki sesuatu tidak dapat memberikannya. Kaum terdidik punya ilmu dan dengan itu dipergunakan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan dan kemanusiaan. Sebab, dunia ini sedang dalam kondisi kemerosotannya. Bukan hanya yang terlihat seperti kabar di media mainstream. Tapi apa yang terlihat secara nyata dengan mata dan terdengar oleh telinga kita bahkan lebih mengerikan.

Maka bergeraklah kawan, bergeraklah! Hati yang akan membimbing pada kebenaran, sedangkan ilmu sebagai alat perjuangannya. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.

Penulis:
Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia
Presiden Mahasiswa UGM