Kekerasan Anak Marak, Masyarakat Dewasa Harus Berubah

Psikolog keluarga, Alissa Wahid (sutriyati/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Akhir-akhir ini, kekerasan yang melibatkan anak usia remaja, baik sebagai pelaku maupun korban marak terjadi hingga mengundang keprihatinan banyak pihak.

Sebut saja di Bengkulu, ada kasus pemerkosaan terhadap Yuyun, siswa Kelas I SMP oleh 14 pemuda. Di Yogyakarta, ada aksi penyayatan yang menyasar anak-anak pelajar, dan penembakan dengan soft gun yang salah satu tersangkanya juga masih duduk di bangku SMP. Termasuk, kasus pemerkosaan dan pembunuhan sadis terhadap buruh pabrik plastik di Tangerang, Enno Farihah oleh 3 pemuda yang tersangka utamanya seorang siswa SMP.

Baca Juga:  Hari Ibu, Presiden Joko Widodo Diminta Kurangi Rasio Angka Kematian Ibu

Psikolog keluarga, Alissa Wahid berpendapat, banyaknya perilaku yang tidak sehat secara sosial yang dilakukan oleh anak itu, salah satunya karena orang dewasanya yang tidak mampu membantu anak berproses mencari jati diri.

“Kalau kekerasan oleh pelajar itu karena mereka memang mereka umumnya sedang galau,” kata Alissa kepada kabarkota.com di Yogyakarta, baru-baru ini.

Menurutnya, seiring perubahan dunia, banyak orang kini menjadi gamang akan menjadi orang seperti apa. Di era Gus Dur dulu, lanjut Alissa yang juga putri sulung mendiang Abdurrahman Wahid ini, patokan akan menjadi orang seperti apa itu hanya berpegang pada Kyai dan orang tua.

Baca Juga:  Kemenristek Dikti Harapkan Pengembangan riset GMT

Tapi memasuki era 80an, sebutnya, pengaruh orang tua dan guru dalam pembentukan jati diri anak-anak, sudah lebih kecil jika dibandingkan dengan pengaruh lingkungan.

“Nah, jaman sekarang ini parah. Kenapa? Karena tiap orang mencari sendiri lewat internet. Orang tua sangat kurang pengaruhnya, sekolah juga kurang, teman-teman sebaya juga dikendalikan oleh internet, dari situ dia bisa menemukan apa saja. Sehingga anak itu seperti berproses sendiri menemukan jati dirinya,” anggap Koordinator jaringan GusDurian ini.

Akibatnya, para orang tua, masyarakat, dan anak-anak juga bingung menemukan jati dirinya seperti apa. Makanya, Alissa menekankan, agar para orang tua juga belajar, sebab salah satu prinsip pendidikan dan pengasuhan anak itu anak tidak pernah salah. Kalau anak melakukan kesalahan, itu yang salah orang dewasa di sekitarnya karena mereka bukan orang dewasa

Baca Juga:  Forum Ilmuwan Jogja Akan Rekomendasikan Nama Menteri ke Jokowi

“Yang harus berubah adalah orang tua mereka, supaya bisa membantu anak tumbuh dan berkembang,” tegasnya. (Rep-03/Ed-03)