Kembangkan Aplikasi Bahasa Jawa, Google Gandeng UGM

Ilustrasi (sutriyati/kabarkota.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Perusahaan teknologi terkemuka, Google, menjalin kerja sama dengan UGM untuk mengembangkan aplikasi Text-To-Speech (TTS) Bahasa Jawa sebagai bagian dari riset yang mereka namai Project Unison.

Senior Program Manager Google Research for Low Resource Languages, Linne Ha, dalam Seminar Digitalisasi Bahasa Jawa dengan Google ASR dan TTS, di UGM, baru-baru ini mengungkapkan, melalui kerja sama ini, UGM akan memfasilitasi proses pengumpulan rekaman tuturan bahasa Jawa untuk membangun database yang diperlukan dalam aplikasi tersebut nantinya.

“Sangat penting bagi kami untuk bekerja sama dengan universitas karena proses pengumpulan data, khususnya untuk bahasa-bahasa daerah, memang sangat sulit sehingga tidak dapat kami kerjakan sendiri,” ujar Linne seperti dikutip laman UGM.

Project Unison ini, jelasnya, merupakan riset yang dimulai Google pada tahun 2015 untuk mengeksplorasi pendekatan inovatif dalam mengembangkan aplikasi Text-To-Speechuntuk bahasa-bahasa yang dikategorikan sebagai low resource language, seperti berbagai bahasa daerah yang ada di dunia.

Di Indonesia, bahasa Jawa menjadi bahasa daerah pertama yang akan dilakukan digitalisasi mengingat penuturnya yang terbilang cukup banyak. Hanya saja, Linne berpendapat, dialek bahasa Jawa yang sangat beragam menjadi tantangan tersendiri bagi pembuatan aplikasi ini.

“Keragaman dalam bahasa Jawa menjadi tantangan tersendiri. Antara penutur bahasa Jawa di daerah ini dengan daerah yang lain bisa punya dialek yang berbeda. Namun, kami berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin data untuk membangun identifikasi suara yang mampu menangkap berbagai dialek yang berbeda,” imbuhnya.

Proses pengumpulan data suara dalam proyek ini, lanjut Linne, tidak menggunakan cara yang biasa dilakukan, melainkan dengan merekam suara dari penutur dan lingkungan yang beragam untuk menangkap berbagai dialek-dialek khas dari bahasa tersebut.

Selain itu, metode ini juga digunakan untuk membuat suara yang terdengar layaknya suara manusia tetapi tidak mudah diidentifikasi kepada seorang pribadi tertentu.

Sementara itu, Kepala Seksi Pusat Data dan Keamanan, Direktorat Sistem dan Sumber Daya Informasi (DSSDI) UGM, Dedi Eko Yunanto Priyadi menekankan pentingnya kerja sama ini sebagai awal dari proyek riset Google di Indonesia.

“Kerja sama ini akan menjadi contoh bagi digitalisasi bahasa daerah yang ada di Indonesia. Jika proyek kali ini berjalan baik, maka akan membuka jalan agar aplikasi yang sama dapat dikembangkan untuk bahasa daerah lainnya,” tambahnya. (Ed-03/Ed-03)