Kenakalan Remaja Terjadi, Ini Alasan Pelajar Yogya

Gerakan Jogja Nyawiji sebagai bentuk keprihatinan atas berbagai tindak kekerasan pelajar Yogyakarta, di kawasan titik nol km Yogyakarta, Sabtu (8/11). (Tria/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Alumni Forum Komunikasi Pelajar Pecinta Alam (FKPPA) DIY, Okta Jati Prabowo mengatakan, terjerumusnya pelajar dalam kenakalan remaja khususnya yang mengarah pada tindak kekerasan, karena kurangnya ruang bagi mereka untuk berekspresi.

Anggapan tersebut disampaikan Okta kepada kabarkota.com di sela-sela Gerakan Jogja Nyawiji (Bersatu), di kawasan titik nol km Yogyakarta, Sabtu (8/11).

Loading...

"Para remaja itu sebenarnya punya semangat besar, tetapi terkadang mereka salah menyalurkan talentanya," kata Okta.

Terlebih, lanjut Okta, para remaja ini sedang dalam masa pencarian jati diri.

Untuk itu, Okta berpendapat bahwa mereka membutuhkan wadah khusus, guna menyalurkan semangat tersebut. Keterlibatan banyak pihak, terutama orang tua, juga menjadi faktor penting untuk membentengi anak-anak muda dari tindak kekerasan.

Sementara, salah satu korlap Jogja Nyawiji, Aditya Fajar menyatakan, kebanyakan pelajar yang terlibat kenakalan remaja, seperti tawuran, dan genk-genk motor karena sekedar ikut-ikutan, atau pun mencari pengalaman.

Oleh karenanya, Aditya menjelaskan, aksi Jogja Nyawiji yang melibatkan ratusan pelajar negeri maupun swasta se-DIY ini bertujuan untuk menggugah kesadaran bahwa pelajar bukan pelaku dan sasaran pembunuhan. Meski pun, pihaknya juga menyadari, pelaku dan korbannya juga berasal dari para pelajar.

Dalam aksi kali ini, selain membawa spanduk dan meneriakkan yeld-yeld anti kekerasan, para siswa juga sempat menggelar aksi teatrikal yang menggambarkan penganiayaan secara beramai-ramai terhadap satu pelajar, hingga korban meninggal dunia.

"Kami ingin menunjukkan bahwa Yogyakarta sebenarnya masih tetap aman," papar Adiyta.

SUTRIYATI