Ketika Harga Anjlok, Siapa Tanggung Jawab?

Ilustrasi (dok. poultry Indonesia)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) –
Peternak ayam potong, khususnya di Yogyakarta sempat membagi-bagikan ayam mereka ke masyarakat, akibat anjloknya harga jual daging ayam di tingkatan produsen, baru-baru ini.

Meski anjloknya berlangsung beberapa hari, namun hal tersebut menjadi perhatian banyak pihak. Ketua Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta, Hari Wibowo
berpendapat bahwa anjloknya harga ayam dipicu oleh tidak terkendalinya populasi, sehingga mengakibatkan over supply

Loading...

“Turunnya harga itu sejak september 2018. Jadi selama 10 bulan peternak jual dibawah HPP. Kami ini semua hampir habis nafasnya, makanya buat aksi itu sekalian kalau mau bangkrut yaa sudah ganti usaha lain saja. Masak per ekor rugi sampai Rp 16 ribu per kg,” sesalnya.

Menurut Hari, seharusnya ada jeda waktu untuk menghabiskan stok. Namun karena sudah masuk masa memelihara anak anak ayam lagi, dan para peternak kesulitan mendapatkan tenaga kerja, akhirnya stok melimpah.

“Kemarin itu peternak banyak yang panik karena ayam besar-besar tidak bisa keluar. Akibatnya, peternak banyak menelan kerugian. Ditambah ulah pedagang yang menjual ke konsumen tetep tinggi. Kan peternak seperti sudah jatuh tertimpa tangga,” kata Hari kepada kabarkota.com, Jumat (12/7/2019).

Untuk itu, lanjut Hari, pihaknya menggelar aksi bagi-bagi ayam ke masyarakat supaya stok cepat habis. Namun ternyata aksi tersebut justru mendapat respon dari berbagai pihak, termasuk satgas pangan.

Akhirnya, Hari menambahkan, setiap hari harga ayam naik. Selain itu memamg stok ayam yang panenan sekarang tidak banyak yang masuk sehingga harga menjadi bagus.

“Sekarang harga jual per kilo di kandang mencapai kisaran Rp 19 ribu,” ungkapnya.

Pihaknya juga mengimbau agar ke depan, para peternak lebih berhati-hati dalam memulai pelihara anak ayam. Di samping per daerah juga harus tahu kapasitas kandang terpasang. Misalnya, ada berapa ekor, kemudian saat pelihara bisa diselaraskan dengan tingkat konsumsi daerah tersebut.

“Ini semestinya melibatkan dinas peternakan setempat. Apalagi sekarang bermunculan kandang-kandang baru,” harapnya.

Stabilkan Harga Ayam, Sebaiknya Pemda ikut Membeli

Sementara Dosen di Fakultas Pertanian Universitas Negeri Surakarta (UNS), Rofandi Hartanto mensinyalir, anjloknya harga ayam potong pasca lebaran itu tak lepas dari “permainan” dari para pemodal besar untuk melihaf berapa modal yang dikeluarkan para peternak skala kecil.

Di samping memang ada over supply dunia. Bahkan, kata Rofandi, Eropa sempat menawarkan harga murah, di bawah Rp 10 ribu per kg.

“Dalam pandangan saya, itu hanya shock pasar saja Makanya, harus dilawan. Shock terapinya, Pemda sebaiknya ikut membeli sebagian kecil dari ayam peternak dengan harga keekonomian Rp 13 ribu per kg. Toh daginya masih bisa disimpan,” kata Rofandi.

Dengan begitu, para pemodal besar yang “nakal” akan berpikir ulang untuk menjual ayam dengan harga murah, sebagaimana yang terjadi baru-baru ini.

Rofandi juga mendorong adanya penegakan hukum yang tegas terhadap para pelaku usaha yang terbukti memainkan harga.

Distan DIY: Untuk Membeli Ayam, Mekanismenya tak Mudah

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian (Distan) DIY, Sasongko mengaku, untuk melakukan pembelian ayam peternak itu mekanismenya tak mudah untuk menyediakan dana yang dibutuhkan.

Untuk itu pihaknya meminta agar para peternak dapat mengatur produksinya secara bergantian supaya kestabilan harga tetap terjaga.

“Antar-asosiasi semestinya juga ada kesepakatan harga yang itu akan menguntungkan para peternak sendiri,” tegasnya. (Rep-01)