Kontroversi Gelar Pahlawan Soeharto

Diskusi Kontroversi Pemberian Gelar Pahlawan pada Soeharto, di Universitas Gadjah Mada (UGM) (8/11/2016) (Anisatul Umah/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Rencana pemberian gelar pahlawan pada presiden ke-2 Indonesia, Soeharto menuai kontroversi. Ada pihak yang pro dengan pemberian gelar pahlawan pada Soeharto dengan beberapa alasan. Namun, banyak juga masyarakat yang kekeh menolak Soeharto mendapatkan gelar pahlawan.

Dosen Universitas Sanata Dharma, Purwanta mengatakan Soeharto sukses membawa tentara berperan ke ranah politik. Ketika Soeharto lengser, keciutan peran dialami tentara, hal ini yang menjadikan Soeharto dianggap hebat bagi kalangan militer.

“Sehingga tujuan memberikan gelar pahlawan pada Soeharto, untuk menjadikan militer memiliki peran lagi di bidang politik,” ungkap Purwanta dalam diskusi bertema Kontroversi Pemberian Gelar Pahlawan pada Soeharto, di Universitas Gadjah Mada (UGM) (8/11/2016).

Pelanggaran HAM oleh Soeharto dalam Genosida 1965, menjadi alasan penolakan gelar pahlawan untuk Soeharto. Jika gelar pahlawan diberikan pada Soeharto, maka sejarah yang dibuat versi Soeharto akan dianggap benar dan akan mematahkan sejarah versi sekarang.

“Konsekuensi jika Soeharto gagal, maka bukti sejarah bisa dipercaya,” jelasnya.

Peran militer dalam politik di zaman Soeharto belum benar-benar hilang pasca Soeharto lengser, di era kepemimpinan Jokowi pun militer masih mempunyai peran yang cukup kuat. Keberadaan militer ditataran politik, akan menganggu perkembangan demokrasi.

Dalam masa kepemimpinan Soeharto, militer mengontrol sampai tataran paling bawah. Dalam masa pemilihan, jika ada orang yang berani mencoblos selain Partai Golkar, maka akan langsung dideteksi oleh militer.

“Konsekuensi jika Soeharto menjadi pahlawan, mencontoh perilaku Soeharto menjadi perilaku yang wajar. Seperti menekan dengan senjata dan berfikir kritis menjadi tidak wajar,” jelasnya.

Kelompok Soeharto masuk ke departemen pendidikan dan membuat pembaharuan sejarah pada tahun 1975. Sehingga, sejarah yang dipelajari sejak bangku sekolah merupakan sejarah yang dibuat dengan versi Soeharto.

“Yang selalu hebat adalah tentara dengan bambu runcingnya,” tuturnya. (Rep-04/Ed-01)