Kopi Bumbung: Sensasi Menikmati Kopi Hitam dari Termos Bambu

SLEMAN (kabarkota.com) – Kopi adalah minuman yang banyak diburu orang. Maka tak heran jika warung-warung kopi sangat mudah ditemui hampir di setiap daerah di Nusantara ini. Tak terkecuali di Yogyakarta.

Berbagai jenis kopi ditawarkan dengan ciri khas rasa dan penyajian masing-masing. Tak hanya di kota, di pelosok-pelosok desa pun, kini banyak berdiri warung-warung kopi yang tak hanya menawarkan cita rasa tapi juga suasana ala pedesaan.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, warung-warung kopi ala ‘Ndeso’ (pedesaan) sedang digandrungi masyarakat di Yogyakarta. Bahkan, melalui media sosial, tak hanya orang Yogyak√°rta saja yang tertarik ‘icip-icip’ kopi dan berbagai menu makan atau pun minuman pendamping yang ditawarkan.

Masing-masing pelaku usaha warung kopi kemudian berlomba-lomba untuk menyuguhkan sajian kopi yang unik untuk menarik hati para pelanggan. Satu diantaranya adalah warung kopi bumbung yang berada di Lembah Goron, Dusun Mranggen, Desa Margodadi, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, DIY ini.

Keunikan dari kopi bumbung ini terletak pada cara penyajiannya. Jika biasanya kopi diseduh kemudian langsung dituangkan dalam cangkir, maka kopi bumbung sesuai namanya, kopi yang siap saji dituangkan bumbung atau bambu khusus untuk disajikan kepada pembeli.

Ketika kabarkota.com mencoba mencicipinya, aroma kopi tercium kuat saat saat tutup bumbung dibuka. Pekatnya kopi hitam hasil olahan barista, Joko Santosa ini juga semakin menggugah selera untuk menikmatinya hingga tetes terakhir.

Joko mengungkapkan, untuk kopi bumbung ini, pihaknya sengaja menggunakan bahan kopi jenis robusta yang didatangkan dari Jawa Timur. Begitu pun dengan jenis bambu khusus yang digunakan juga berasal dari luar kota Yogyakarta.

Kenapa pilihannya kopi robusta? Menurutnya, karena antara cita rasa kopi jenis ini dengan bambu yang digunakan sudah menyatu sehingga ini dijadikan andalan Kopi Bumbung yang berdiri sejak awal Januari 2018 lalu.

“Untuk bisa menghasilkan kopi bumbung ini, kami melakukan riset cukup lama,” ungkap pria 35 tahun ini kepada kabarkota.com, Sabtu (15/9/2018). Termasuk untuk pemilihan bambunya yang sudah terhitung langka, serta mempertimbangkan ketahanan, rasa, penampilan, efek, dan tentunya tetap higienis.

Kopi Bumbung juga “Menjual” Kenyamanan

Meski namanya Kopi Bumbung, namun jangan khawatir bagi para pemburu kuliner yang bukan pecinta kopi, karena di warung dengan luasan sekitar 400 meter persegi ini juga menawarkan berbagai jenis makanan dan minuman, serta aneka camilan tradisional, dengan kisaran harga mulai Rp 3 ribu – Rp 22 ribu per porsi.

Diantara menu yang bisa dinikmati selain kopi adalah aneka minuman jamu, es buah, wedang ronde, sate belut, ikan bakar, ayam bakar, sayur lodeh, tahu isi, pisang goreng, dan kacang rebus.

Pengelola Kopi Bumbung, Arifin Budiarto menjelaskan bahwa warung dengan konsep tradisional di tengah pedesaan ini tujuannya tak sekedar menawarkan menu makanan dan minuman ala “Ndeso” tapi juga yang terpenting adalah kenyamanan bagi para pengunjung sehingga betah berlama-lama “nongkrong di warungnya.

Meski dari sisi kapasitas tempat tak terlalu luas, yakni muat sekitar 40-an orang saja, ditambah tempat lesehan, namun suasana warung yang berada di tengah pedesaan ini cukup membuat nyaman pengunjung hingga kebanyakan betah berjam-jam menikmati kopi dan hidangan lain sembari bercengkrama dengan partnernya masing-masing. Ditambah dengan adanya spot-spot selfie dari ranting pohon kering yang kekinian.

 

Penasaran ingin mencoba? Warung Bumbung ini buka setiap hari, mulai pukul 09.00 – 18.00 WIB, kecuali hari Senin tutup. Untuk bisa sampai ke lokasi, dari arah pasar Godean ke arah Jalan Godean – Seyegan KM 1.5 atau sebelum selokan Mataram belok kiri, dan tinggal mengikuti petunjuk arah Kopi Bumbung. (sutriyati)