Kritik Sosial Melalui Pementasan Musik Sanggar Nuun

(Sumber:dok.pribadi)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Siapa yang berani memegang Pataka, maka ia telah melampaui dirinya, yang rapuh dalam kuatnya,
yang hina dalam megahnya, yang takut dalam beraninya, yang runtuh dalam jayanya, yang tidak tumbang dalam hidupnya, karena sesungguhnya, pataka terletak di balik bentuk nyata.

Lirik desing instrumenta spiritum dalam pembukaan produksi musik XXIII Sanggar Nuun Yogyakarta di Taman Budaya Yogyakarta (17/9/2016) dan di Gedung Ki Narto Sabdo Taman Budaya Raden Saleh, Semarang (21/9/2016).

Baca Juga:  Corona Mengkhawatirkan, Aksi K@MU untuk Udin Ditiadakan

Pentas musik ini menceritakan tentang peperangan. Dimulai dengan kekalahan, membuat strategi, bertahan, dan melawan. Pataka mengartikan panji atau bendera yang menunjukkan sebuah identitas. Dianalogikan bangsa Indonesia dengan bendera merah putihnya. Kritik pada negara menjadi tujuan dari pementasan ini.

“Ini kritik dalam bab ekonomi, politik, dan kapitalisme. Konser ini dibagi menjadi tiga kelompok, kelompok pertama bicara tentang sensor, kedua kapitalisme, ekonomi, dan pendidikan, ketiga politik dan  gaya hidup,” ungkap Milatun Nafiah pimpinan produksi Pataka (16/9/2016).

Baca Juga:  Virus Zika Mengancam, Ini yang Perlu Diwaspadai

Selama 1 jam 47 menit akan disajikan perpaduan musik Jawa dan barat . Alat musik yang digunakan mulai dari gitar, bas, keyboard, pekusi, jimbe, bedug, perkusi, cobel, gamelan, bonang, pianika digderido, dll.

“Sanggar musiknya kreatif akulturatif, perpaduan Jawa dan barat,” tambahnya.

Nantinya akan disajikan lima monolog dengan masing-masing karakter yang kemudian memainkan alat musiknya masing-masing. Kostum yang digunakan disesuaikan dengan karakter yang dibawakan masing-masing pemain. Pentas ini dikerjakan kurang lebih 70an anggota tim.

Baca Juga:  Jadwal Pemadaman Listrik di DIY per 5 Januari 2019

Menurut pimpinan produksi pementasan ini babak kedua menjadi yang paling menarik. Dari sisi cerita disusun strategi dalam bentuk musik heroik, yang menandakan musik kebangkitan.

“Kegelisahan sosial pada negara, misalnya hampir kalah perang, bisa saya ibaratkan negara yang tertinggal dalam banyak hal, mulai dari pendidikan, infrastruktur, dan teknologi,” pungkasnya. (Rep-04/Ed-01)