Literasi Politik dan Politik Digital Dinilai perlu Masuk dalam Kurikulum Pendidikan

Ngobrol Milenial: Generasi Milenial Bisa Apa untuk Indonesia Masa Depan?, di salah satu resto jalan Bugisan Yogyakarta, baru-baru ini. (dok. istimewa)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Dalam konteks demokrasi Indonesia, literasi politik dan politik digital perlu dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. Baik pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh Direktur LPM Universitas Krisnadwipayana, Abdullah Sumrahadi, dalam Ngobrol Milenial: Generasi Milenial Bisa Apa untuk Indonesia Masa Depan?, di salah satu resto jalan Bugisan Yogyakarta, baru-baru ini.

Menurutnya, saat ini ada istilah intelektual publik, yakni orang yang tak memiliki gelar pendidikan tinggi, namun mampu mempengaruhi khalayak umum. Ia mencontohkan, grup musik SLANK yang telah mempopulerkan kata peace (damai) dengan lambang V yang diulang-ulang, sehingga kini diyakini bahwa damai adalah hal nilai yang disadari oleh semua kalangan dan diabadikan melalui perilaku yang nyata.

Dosen Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Faris Al-Fadhat berpendapat bahwa seorang intelektual harus memosisikan diri sebagai pelita yang mencerahkan, bukan justru memperkeruh perseteruan.

“Namun saat ini istilah intelektual sering kali diperdagangkan untuk kepentingan politik tertentu,” sesal Faris.

Di sisi lain, Pengamat Media Sosial, Budhi Hermanto menganggap, generasi milenial juga perlu memahami sejarah ormas, khususnya yang berbasis keagamaan, seperti Muhammadiyah dan NU yang merupakan bagian dari

“Dengan melek sejarah, generasi milenial diharapkan tetap responsif terhadap setiap gejolak sosial politik yang mengedepankan nalar transformatif dan berkemajuan,” tegas Pengurus Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah ini.

Sementara pada kesempatan tersebut, Sosiolog Jaringan Intelektual Berkemajuan, Hamzah Fansuri lebih menekankan bagaimana batas antara ruang nyata dan maya yang semakin kabur. Aktivitas maya telah menjadi bagian dari aktivitas nyata.

Oleh karenanya, lanjut Hamzah, bersosial media menjadi bagian dari dunia digital menjadi semacam keharusan bagi anak milenial.

“Namun yang pasti, setiap kita harus memahami apa yang kita lakukan,” pintanya.

Generasi milenial, kata Hamzah, adalah generasi yang memiliki makna tersendiri atas arti sebuah pengaruh, eksistensi dan keterlibatan publik, sebagaimana sosok influencer seperti Atta Halilintar dan Ria Ricis.

Sedangkan Cahyo Prabowo selaku founder Pelatar.com mengutarakan bahwa orang yang tidak memiliki kuota dianggap tidak milenial seketika. Hal itu karena dunia maya sudah menjadi bagian dari kehidupan nyata. Termasuk, menjadi bagian penting dalam pertarungan politik saat ini.

“Setiap saat hoaks diproduksi dan disebarkan yang menandakan rendahnya literasi, terkhusus literasi politik,” anggapnya. (Ed-01)