Membangun Kesadaran Bencana Melalui Eko-Eduwisata Hutan Mangrove di Baros

Ilustrasi: Aksi turis manca negara menanam pohon mangrove di Baros (dok. istimewa)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Dulu, bercocok tanam di sekitar dusun Baros, Desa Tirtohargo, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, DIY merupakan kemustahilan. Uap laut dari pesisir selatan yang tak jauh dari wilayah tersebut telah merusakkan lahan pertanian dan berbagai tanaman yang tumbuh di sana.

Warsono atau akrab dipanggil mbah Warso adalah salah satu warga yang sangat memahami kondisi alam di wilayah Baros ketika itu. Jangankan pertanian, pepohonan kelapa yang tumbuh tinggi menjulang, dedauannya rontok akibat terkena uap air laut.

Belum lagi persoalan sampah dari tempuran sungai Bedog, Oya, dan Opak yang seolah tak ada habisnya, meski telah dibersihkan berkali-kali. Terlebih saat terjadi banjir.

Mbah Warso, salah satu perintis hutan mangrove Baros (sutriyati/kabarkota.com)

Kondisi lingkungan seperti itu akhirnya mendorong mbah Warso dan beberapa warga merintis penanaman bakau, pada tahun 2003 silam. Tepatnya, di sepanjang tepi sungai Opak yang membentang dari Pantai Depok di sisi timur hingga Pantai Samas di barat Baros.

Dengan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari mahasiswa, BUMN, hingga pemerintah Kabupaten Bantul, dan Pemerintah Daerah (Pemda) DIY, mbah Warso cs berhasil menanam empat jenis bakau (mangrove) dengan luasan sekitar 15 hektar. Namun, lagi-lagi karena seringnya terjadi banjir, pepohonan bakau yang sekarang tumbuh menjadi hutan mangrove kurang lebih hanya 4 hektar.

Hutan mangrove Baros (sutriyati/kabarkota.com)

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIY, I Nyoman Sukanta, saat dihubungi kabarkota.com, 11 Agustus 2017, menjelaskan berbagai manfaat tanaman tersebut untuk pencegahan bencana alam. Diantaranya, keberadaan hutan mangrove memang mampu mengurangi abrasi pantai, menghindari terjadinya banjir rob, serta dapat mengeleminir energi tsunami.

Tak hanya itu saja, tanaman bakau pun mampu meningkatkan kadar oksigen di udara, perkembangbiakan udang dan ikan di pantai, dan bisa jiga dikembangkan sebagai hutan wisata.

Sejalan dengan itu, Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Yogyakarta, Halik Sandera yang sebelumnya pernah melakukan pengamatan di kawasan hutan mangrove Baros mengungkapkan, kerusakan alam akibat abrasi di sana cukup signifikan. Salah satunya menyebabkan suplai material pasir dari hulu berkurang.

“Secara kawasan sebenarnya hutan mangrove di Baros tak bisa dikembangkan, karena lahannya tak terlalu luas, sementara tanaman bakau perlu lahan berlumpur untuk bisa tumbuh maksimal. Meski demikian, masih bisa dijadikan lokasi pembelajaran, selain berfungsi juga untuk melindungi lahan pertanian disekitarnya,” papar Halik.

Meski butuh waktu lama, namun upaya mbah Warso tak sia-sia. Kini, selain telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi taman pesisir, para pemuda yang dimotori salah satunya oleh Dwi Ratmanto, sejak tahun 2012 lalu, telah mengembangkan eko-eduwisata bertema “agrosilfofishery tourism”. Pengembangan wisata berbasis pendidikan lingkungan itu didasarkan pada Surat Keputusan (SK) Bupati Bantul No 284/2014 tentang Pencanangan Konservasi Taman Pesisir.

Ikon Kawasan Hutan Mangrove Baros (sutriyati/kabarkota.com)

“Kawasan kami adalah kawasan pencadangan taman pesisir, jadi di kawasan mangrove yang sebagian di sekitar sungai Opak tidak boleh dibuka untuk wisata massal (mass tourism). Karena itu, kami mengembangkan special interest tourim,” jelas Divisi Konservasi KP2B ini.

Dengan berbagai paket wisata yang ditawarkan, seperti live in kampoeng, camping hutan mangrove, atraksi wisata, konservasi, dan kunjungan keluar, dalam sebulan pihaknya mampu menggaet 400-700 wisatawan, baik lokal maupun manca negara.

“80 persen wisatawan memilih tanam pohon mangrove (paket konservasi,” imbuhnya.

Tingginya animo wisatawan untuk turut menjaga kelestarian alam itu, juga dibarengi dengan kesadaran masyarakat sekitar terhadap ancaman bencana yang telah mereka pahami sebelumnya.

“Kami berharap, kehidupan pertanian,perikanan lengkap dengan budaya dan adat istiadatnya bisa lestari serta harmonis sehingga mampu membawa kesejahteran untuk semua,” harap Dwi.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Heru Suroso berpendapat bahwa salah satu yang menjadi pembeda dari upaya penanggulangan bencana di DIY dibandingkan daerah-daerah lain adalah masyarakatnya yang tangguh dan mandiri sehingga penanggulangan bencana bisa berjalan secara efektif dan efisien. (Ed-03)

SUTRIYATI