Menelusuri Jejak Gafatar di Yogyakarta

Logo Gafatar (dok. Istimewa)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Menghilangnya sejumlah orang dari keluarganya secara misterius pada akhirnya membuat perhatian publik tertuju pada Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), satu ormas terlarang yang dibalut dengan aksi-aksi sosial. 

Bukan tanpa alasan, karena kepergian orang-orang itu mengindikasikan bahwa mereka bergabung dengan kelompok tersebut. Termasuk, dokter Rica Tri Handayani dan putra kecilnya, Zafran Arif Wicaksono yang baru-baru ini berhasil dipulangkan ke keluarganya, setelah menghilang sekitar dua minggu.

Tim kabarkota.com, baru-baru ini mencoba menelusuri jejak sekte besutan si nabi palsu, Ahmad Musaddeq yang telah berganti nama tersebut. Tak mudah menemukan jejak mereka, mengingat, pasca dinyatakan sebagai organisasi terlarang pada awal tahun 2015 lalu, mereka bergerilya ‘di bawah tanah’, dengan sistem yang sangat rapi.

Salah satu sumber menyebutkan bahwa Gafatar pernah bermarkas di taman kuliner yang terletak di kawasan Condong Catur, Depok, Sleman. Ketika didatangi, Rudy (bukan nama sebenarnya), penjaga keamanan taman kuliner membenarkan informasi tersebut, hanya saja, sekitar setahun terakhir, kios yang sebelumnya ditempati oleh orang-orang Gafatar tak difungsikan lagi.

“Mungkin karena sudah ada berita-berita yang tersiar di media bahwa gerakan mereka gak bener, akhirnya mereka menyingkir sendiri,” kata Rudy kepada kabarkota.com di kompleks Taman Kuliner Yogyakarta.

Tak berhasil menemukan jejak Gafatar di Taman Kuliner, penelusuran berlanjut melalui media sosial, hingga menemukan akun salah satu pengurus DPD Gafatar DIY. Kepada kabarkota.com, mantan pengurus Gafatar DIY yang enggan disebut namanya itu berdalih bahwa sejak bulan Agustus 2015, Gafatar sudah membubarkan diri secara resmi. Ia juga mengaku tidak lagi berada di Yogyakarta.

Gafatar merupakan ormas yang dideklarasikan pada 21 Januari 2011 lalu, dan diketuai oleh Mahful T. Tumanurung dan bergerak di bidang sosial, serta konsens terhadap isu ketahanan pangan.  Namun, Gafatar yang sebenarnya pengganti dari komunitas Millah Abraham yang juga penjelmaan dari Al Qiyadah Al Islamiyah pimpinan ‘Nabi palsu’ Ahmad Musadeq itu dinyatakan sesat oleh Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, pada 21 Januari 2015 dan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku Utara, pada 27 Maret 2015.

Tak berhenti sampai di situ, penelusuran berlanjut dengan menemui dua orang yang mengaku terjebak dalam kelompok Al Qiyadah Al Islamiyah, embrio terbentuknya Gafatar. Adalah CJ dan NN yang mengaku terjebak dalam organisasi tersebut di era 2004 dan 2005.

CJ mengungkapkan, dirinya yang ketika itu masih menempuh kuliah tingkat akhir di salah satu universitas swasta ternama di Yogyakarta juga memegang posisi strategis dengan menjabat pimpinan berbagai organisasi.

Di tahun 2005, ia bersama teman kuliahnya AF diajak oleh senior di salah satu organisasinya berinisial I  yang berlakangan diketahui menjadi salah satu pengurus Gafatar DIY.

Pengajian pertama, digelar di sebuah rumah kontrakan yang terletak di sekitar Jalan Kaliurang dengan diikuti 10 – 12 orang laki-laki. “Di situ mulai ada keanehan karena ajarannya tidak tidak mewajibkan jamaah berwudhu ketika akan membuka Al Qur’an, mengutip ayat-ayat Al Qur’an secara acak, salat 5 waktu sebagai sunnah karena yang disebutkan dalam AQ hanya Salat malam,” ungkap CJ.

Pengajian kedua, lanjutnya, ia masih bersama AF dibaiat dengan disaksikan IAN dan GP dengan lokasi berbeda, tapi masih di lingkup Sleman. Saat itu pembaiatan dilakukan oleh MY yang pada akhirnya juga menjadi petinggi Gafatar DIY. Sampai pengajian ketiga, CJ mengaku semakin menemukan berbagai penyimpangan dalam ajaran tersebut hingga memutuskan untuk tidak lagi bergabung dengan Al Qiyadah Al Islamiyah. “Setelah itu, saya tidak pernah ikut pengajian lagi,” akunya.

Pengalaman berbeda diungkapkan NN, yang mengaku telah didekati tokoh penting Al Qiyadah sejak tahun 2004, dan gerakannya masih sangat embrional dengan 12 orang pengikut. “Mereka militansinya luar biasa, agamanya abangan, tidak berakar dan umumnya mereka orang-orang yang dihormati di lingkungannya,” sebutnya.

NN juga menyebut, sasaran kelompok ini adalah para mahasiswa yang masih dalam pencarian jati diri, maka tak heran jika gerakan ini tumbuh subur di Yogyakarta. “Bisa dikatakan di Yogyakarta ini gerakan mereka paling berhasil,” anggap NN.

Hanya saja, NN secara tegas memutuskan untuk tidak mengikuti aliran yang ia anggap menyimpang tersebut. “Setelah terbantahkan semua, akhirnya mereka tidak berani mengajak saya lagi,” ujarnya sembari tersenyum. (Rep-03/Ed-03)