Menggagas Bumi Cantik Tanpa Plastik di Kalangan Milenial Yogya

Come on Talk UMY: “Bumi Cantik tanpa Plastik”, di warung kopi DST Bantul, Minggu (30/6/2019). (dok. kabarkota.com)

BANTUL (kabarkota.com) – Penggunaan plastik untuk berbagai keperluan menjadi hal yang sangat lazim di masyarakat. Termasuk generasi milenial di Yogyakarta.

Sifatnya yang praktis dan harga yang relatif murah menjadikan plastik sebagai primadona di masyarakat. Bahkan, seiring menjamurnya online shop seperti sekarang, penggunaan plastik sebagai pembungkus kemasan semakin tak terhindarkan. Begitu pun di kalangan pelaku industri, terutama perusahaan yang memproduksi makanan dan minuman dalam kemasan.

Loading...

Hanya saja, persoalan yang kemudian muncul sebagai dampak pengggunaan plastik itu adalah sampah yang “membanjir” di mana-mana. Padahal, sampah plastik merupakan limbah yang sulit terurai sehingga sangat mencemari lingkungan.

Tapi, Mungkinkah bumi ini tanpa plastik? Pertanyaan yang dilontarkan oleh volunteer Greenpeace Yogyakarta, Retno Suryandari tersebut menjadi pemantik Talkshow Communication on The Weekend (Come on) Talk UMY: “Bumi Cantik tanpa Plastik”, di warung kopi DST Bantul, Minggu (30/6/2019).

“Isu ini sebenarnya sudah lama banget, tapi kesadarannya sedikit banget,” sesal Retno yang menjadi salah satu pembicara dalam forum tersebut.

Menurutnya, karena penyadaran secara massif ke masyarakat masih sulit dilakukan, maka upaya mengurangi penggunaan plastik semestinya dimulai dari masing-masing individu yang kemudian ditularkan kepada keluarganya.

“Jadi yang kami lakukan untuk mengurangi penggunaan plastik itu dengan cara kampanye,” tegasnya.

Selain itu, lanjut Retno, pada tahun 2016 – 2018, greenpeace juga telah melakukan brand audit di sejumlah pantai wilayah Bali, Yogyakarta, dan Banten. Kemudian, dilanjutkan dengan audiensi ke sejumlah perusahaan yang dianggap menjadi penyumbang sampah plastik terbanyak di beberapa pantai tersebut. Mengingat, dalam Undang-undang No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, perusahaan bertanggung-jawab untuk meng-handle kemasan yang sulit terurai.

“Kami pun mendorong pemerintah yang efektif membuat kebijakan untuk pengelolaan sampah dan pengurangan penggunaan plastik,” imbuh Retno.

Sementara Ketua Jaringan Pengelolaan Sampah Mandiri (JPSM) Kabupaten Sleman, Haryadi berpendapat bahwa bicara tentang sampah, maka perlu memahami undang-undangnya terlebih dahulu, dan bisa menentukan langkah apa yang bisa dilakukan dalam melakukan pendampingan pengelolaan sampah di masyarakat.

“Dalam penanganan sampah, kita harus bisa membedakan pengelola dan pengolahan,” ucap pegiat Kampung Wisata Lingkungan Sukunan ini.

Pihaknya mengaku, butuh proses panjang untuk menjadikan kampung Sukunan sebagai percontohan pengelolaan sampah mandiri se-dunia. Terlebih sebelumnya, Kampung yang terletak di wilayah kecamatan Gamping, Sleman, DIY ini terkenal kumuh.

“Tahun 1997 itu pertama kalinya kami melakukan swakelola sampah mandiri,” ungkap Haryadi.

Dimulai dari sedaqoh sampah, kini berkembang hingga pengelolaan sampah mandiri, dan mendirikan bank sampah. Berkat keberhasilan itu, mulai tahun 2009 – 2010, Kampung Sukunan menjadi laboratorium lingkungan dan menjadi rujukan hingga sekarang.

Haryadi menekankan, “sampah kalau dikatakan sampah, maka ujungnya ancaman. Tapi kalau dianggap sebagai pemberdaya, maka itu menjadi keampatan”.

Pada kesempatan ini, Ketua Panitia Come on Talk UMY,  M. Iqbal Khatami berharap, event ini dapat membuka mata para generasi milenial dengan memperhatikan ekosistem alam, serta pencemaran sampah yang dapat merusak bumi, dan menyebabkan berbagai macam bencana alam seperti banjir.

“Ini sebagai langkah bersama untuk peduli masalah sampah,” kata Iqbal dalam sambutannya.

Di akhir acara yang diprakarsai oleh mahasiswa Public Relation UMY Angkatan 2016 ini, para peserta juga diminta untuk menulis harapan pada selembar kertas warna-warni yang kemudian digantungkan di ranting-ranting pohon. (Rep-01)