Mengungkap Fenomena Pasar sore Ramadhan di Yogyakarta

Ilustrasi: Makanan takjil yang dijual di pasar sore Ramadhan di kampung Kauman Yogyakarta (sutriyati/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Saat datangnya bulan Ramadhan dan jelang Idul Fitri, satu hal yang hampir selalu terjadi adalah naiknya harga-harga bahan pokok yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari.

Di pasar Beringharjo Yogyakarta misalnya, menurut penuturan sejumlah pedagang, sejak setengah bulan sebelum datangnya bulan puasa, harga-harga bahan makanan, seperti daging ayam, dan sayur-sayuran sudah mulai naik.

Bahkan, Agus, salah satu penjual daging ayam di pasar tradisional tersebut memprediksi, harga daging ayam masih akan merambat naik hingga jelang lebaran nanti. Begitu pun Winarni yang kesehariannya berjualan daging sapi di pasar Beringharjo ini memperkirakan, kenaikan harga daging sapi bisa mencapai 30 persen, saat mendekati Idul Fitri.

Kondisi ini, mau tidak mau membuat pengeluaran masyarakat untuk komsumsi ikut membengkak dibandingkan hari-hari biasa. Sementara, bagi para penjual makanan dan minuman umumnya relatif sepi pembeli, saat pagi dan siang hari. Padahal, naiknya harga-harga bahan kebutuhan pokok itu juga sangat mempengaruhi besaran biaya produksi mereka.

Hal itulah yang menjadi tantangan bagi para pelaku usaha di bidang kuliner untuk tetap bisa ‘survive’ menjalankan bisnisnya di bulan puasa. Namun, tak ada persoalan yang tak ada jalan keluarnya.

Sebagian masyarakat di Yogyakarta, khususnya kaum perempuan, punya cara tersendiri untuk menyiasati situasi agar dagangan mereka tetap laris manis saat Ramadhan tiba. Pasar tiban yang kini dikenal juga dengan pasar sore Ramadhan di Kampung Kauman Yogyakarta adalah salah satu pionirnya. Bagaimana para pedagang yang mayoritas adalah perempuan tetap mampu menggerakkan roda perekonomian rumah tangga, dari usaha yang mereka tekuni, bahkan dengan hasil yang berlipat ketimbang perniagaan di hari-hari biasa.

Keberhasilan pasar pasar sore Ramadhan di Kauman ini juga yang akhirnya menginspirasi masyarakat di wilayah sekitarnya, termasuk kini hingga ke pelosok-pelosok desa berdiri pasar-pasar serupa, saat bulan puasa tiba.

Aswiyah, salah satu warga Kauman yang mengawali keberadaan pasar sore Ramadhan menceritakan, awalnya ia hanya berjualan makanan takjil sendirian di pinggir jalan Ahmad Dahlan Yogyakarta.

Ketika itu, sekitar tahun 1973, perempuan asal Bantul ini terpaksa membuka lapaknya di tepi jalan, setelah mengalami kecelakaan saat berjualan makanan keliling di kampung Kauman. Usahanya tak sia-sia, dagangannya laris manis setiap kali lapak dibuka. Hingga sejumlah warga lainnya turut mengais keuntungan dengan berjualan aneka makanan di sana.

Dari tahun ke tahun, jumlah penjual makanan takjil di wilayah Kauman kian bertambah, hingga pengurus RW setempat berinisiatif menata lapak mereka, dengan memindahkan lokasi berjualan yang semula di pinggir jalan, kini masuk ke gang kampung Kauman, sekitar tahun 1980-an

Salah seorang panitia pasar sore Ramadhan Kampung Kauman, Edi Purnomo, saat ditemui kabarkota.com di kediamannya, Selasa (30/5/2017), mengatakan, selain ditata, para penjual juga difasilitasi tenda dan lapak untuk menjajakan makanan dan minuman mereka.

Hanya saja, saat musim hujan tiba, tenda-tenda yang basah membuat para pedagang kesulitan mengamankan barang dagangan mereka, sehingga mula tahun 2000-an, panitia menggantinya dengan fasilitas seng sebagai atap lapak mereka. Dana pengadaan fasilitas tersebut, didapat panitia dari pungutan retribusi per lapak Rp 160 ribu untuk sebulan.

Kini, meskipun pasar sore Ramadhan menjamur di mana-mana, namun pengunjung pasar sore Ramadhan di Kampung Kauman, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta ini tetap membludak. Tak hanya itu, dari 50-lapak pedagang, kira-kira 30 persen diantaranya merupakan warga dari luar Kauman.

Alhasil, warga tak hanya meraup keuntungan dari hasil jualan mereka, tetapi juga mampu berkontribusi untuk membangun sarana dan prasarana di kampung mereka. Sebab, sebagian dana dari retribusi pedagang itu digunakan juga untuk menyokong pembangunan fasilitas publik, seperti jalan konblok, khususnya di wilayah RW 10.

Di Kampung Jogokariyan, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta, sejak 13 tahun lalu, pasar sore ramadhan juga digagas oleh takmir masjid Jogokariyan. Ketua panitia kampung Ramadhan Jogokariyan, Muhammad Hasan Habib mengungkapkan, selain untuk ‘menghidupkan’ suasana di bulan puasa, inisatif pasar sore juga bagian dari menghidupkan ekonomi umat.

Pihaknya bersyukur karena dengan hadirnya pasar sore itu, kini sekitar 250 pedagang yang tak hanya dari kampung Jogokariyan turut meramaikan aktivitas perniagaan warga tersebut. Bahkan, ada sebagian dari mereka yang terus melanjutkan usaha dagangnya di luar bulan Ramadhan.

“Kalau masjid-masjid lain mau meniru ya silakan. Itu bagian dari syiar Islam, bagaimana kita bisa menghidupkan masjid. Kalau masjidnya hidup, insya Allah pasar-pasarnya juga akan hidup. Itu bagian dari impian kami,” kata Hasan, Rabu (31/5/2017).

Pakar Ekonomi Syariah di Yogyakarta, Muhammad, dalam bukunya “Ramadhanomic” menuliskan bahwa kehadiran bulan Ramadhan memberikan keberkahan bagi para pelaku ekonomi. Mengingat, selama bulan suci ini, dinamika ekonomi yang berkaitan dengan pelaku konsumsi, permintaan barang baru, dan kebutuhan transportasi terjadi sangat luar biasa.

“Ada dimensi di mana perekonomian dalam Islam tidak bisa dicerna dengan rasionalisme,” ungkapnya. Karena itu, ia menyebut dalam buku itu sebagai misteri ekonomi Ramadhan.

Menurutnya, hal itu terjadi karena saat puasa, kondisi hati rata-rata orang sedang berada di puncak spiritnya sehingga berusaha berbuat baik sebanyak-banyaknya. Contoh terkecilnya, saat membeli makanan untuk berbuka biasanya dilebihkan untuk orang lain agar bisa berbuka puasa bersama. Maka tak heran jika kebanyakan keluarga di Indonesia membeli ataupun menyiapkab menu berbuka puasa, dengan lebih dari 2-3 menu sekaligus. (Ed-03)

SUTRIYATI