Menlu RI: Pancasila Jauhkan Indonesia dari Konflik

Pembukaan Kongres Pancasila ke X, di UGM, Kamis (23/8/2018). (sutriyati/kabarkota.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno Marsudi menyebut, Pancasila telah menjaga Indonesia dan menjauhkan dari konflik. Hal tersebut diungkapkan Menlu, saat menjadi Keynote speaker dalam Pembukaan Kongres Pancasila ke X, di UGM, Kamis (23/8/2018).

“Pancasila tidak hanya menjadi dasar atau fondasi tetapi juga ruh dan perekat bangsa Indonesia yang sangat majemuk,” kata Retno.

Selain itu, peran Indonesia dalam rangka ikut menjaga perdamaian dunia, melalui diplomasi perdamaian dan diplomasi kemanusiaan, khususnya di sejumlah negara konflik juga tak lepas dari Pancasila. Pihaknya mencontohkan, upaya diplomasi Indonesia untuk ikut memperjuangkan kemerdekaan Palestina, etnis rohingnya di Myanmar dan Bangladesh, dan upaya perdamaian di Afganistan yang telah berkonflik selama kurang lebih 30 tahun terakhir.

Ajang Asian Games yang tengah digelar di Indonesia saat ini, lanjut Menlu, juga mendapatkan apresiasi dunia karena telah menjadi perekat persahabatan dan perdamaian antara Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut) yang baru saja berdamai.

Baca Juga:  Disdikpora: Sudah Mencapai 40 Persen

“Sebelum pembukaan Asian Games, Presiden RI, Joko Widodo bertemu Perdana Menteri Korsel dan Deputi Perdana Menteri Korut. Mereka mengapresiasi Indonesia yang secara konsisten terus mendorong perdamaian dan stabilitas serta denuklirisasi semenanjung Korea,” ungkapnya.

Kesempatan yang diberikan Indonesia, agar Korsel dan Korut tampil satu tim dalam tiga cabang olah raga (cabor) di Asian Games kali ini, menurut Retno, menjadi penguat Confidence Building Nations bagi kedua negara tersebut.

Setelah pembukaan Asian Games, imbuh Retno, giliran Palestina yang memberikan apresiasi atas tanggapan hangat Indonesia terhadap delegasi Palestina, yang jumlahnya lebih dari 80 atlet dari Tepi Barat, Jalur Gaza, dan diaspora Palestina.

Dua kata kuncinya, tegas Menlu. Pertama, konsistensi posisi politik Luar Negeri Indonesia, dan kedua perdamaian. “Indonesia dinilai memiliki rekam jejak konsistensi diplomasi yang berkontribusi bagi perdamaian, stabilitas dan kesejahteraan dunia,” ucapnya.

Baca Juga:  Mahasiswa UGM Ciptakan Aplikasi Curhat Pasien

Kongres Pancasila ke X: “Pancasila, Ideologi Pemersatu Bangsa dan Dunia

Kongres Pancasila ke-10 yang digelar pada 23-24 Agustus 2018 ini mengambil tema: Pancasila, Ideologi Pemersatu Bangsa dan Dunia. Salah satu alasannya, karena terinspirasi dari gagasan pidato Soekarno berjudul “To build the World A New”, yang disampaikan pada sidang PBB tahun 1960an. Mengingat pada waktu itu, Soekarno menawarkan gagasan Pancasila sebagai dasar filsafat untuk membangun tatanan dunia baru yang lebih bermartabat dan berkeadaban.

Menurut ketua panitia Kongres, Djagal W. Marseno, kongres Pancasila kali ini menghadirkan Keynote Speaker, Retno Marsudi (Menteri Luar Negeri RI) dengan Tema “Peran Indonesia dalam Upaya Mewujudkan Perdamaian Dunia”. Dilanjutkan Diskusi Panel I Tema: “Sisi Universal Pancasila di Mata Bangsa-Bangsa di Dunia” Diisi oleh Makrand Shukla (Director Jawaharlal Nehru Indian Cultural Center), Robert William Hefner (Boston University) dan Prof. David Linnan (University of South Carolina).

Baca Juga:  Potensi Hujan Lebat Diprediksi masih akan Terjadi di DIY

Pada Diskusi Panel II Tema : “Keselarasan Agama dengan Nilai-Nilai Pancasila” akan disampaikan oleh Prof. Dr. Mahfud MD (Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila), Dr. Anhar Gonggong (Lemhannas RI) dan Prof. Dr. Purwo Santoso, M.A. (Fisipol UGM). Sedangkan pada Diskusi Panel III Tema : “Peran Perguruan Tinggi dalam Pelembagaan dan Pembudayaan Pancasila” dengan narasumber Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng. (Rektor UGM), Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc. (Rektor UNLAM/Perwakilan Forum Rektor Indonesia) dan Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. (Perwakilan Forum Rektor Indonesia).

Sesi akhir yakni Diskusi Panel IV dengan tema Pancasila dan Generasi Muda, akan disampaikan oleh Obed Kresna Widya Pratisha (Ketua BEM UGM), Livi Zheng (Sutradara dan Produser Film) dan Marzuki Mohamad (Jogja Hiphop Foundation). (sutriyati)