Merapi Erupsi Lagi, BPPTKG DIY sebut tak ada Awan Panas

Visual Erupsi Merapi Sabtu (28/3/2020) pagi (dok. twitter @bpptkg)

YOGYAKARTA – Erupsi Gunung Merapi kembali terjadi, pada Sabtu (28/3/2020) pukul.06.21 WIB. Sebelumnya pada Jumat puku 21.46 WIB, Merapi juga mengeluarkan material vulkanik.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Hanik Humaida mengatakan, dua letusan yang terjadi tersebut didominasi gas, tanpa disertai awan panas.

“Jadi benar-benar itu gas yang menuju ke permukaan, dan tidak terlihat adanya awan panas,” tegas Hanik saat melakukan teleconference dengan wartawan di Yogyakarta, Sabtu (28/3/2020)

Baca Juga:  Merapi dalam Fase Erupsi Efusif, Ini yang Perlu Diwaspadai

Menurutnya, erupsi yang akhir-akhir ini terjadi dalam durasi dan jarak yang pendek menunjukkan adanya aktivitas pergerakan magma ke permukaan. Namun demikian, tak berarti jika terjadi letusan lanjutan, maka lontaran materialnya akan lebih banyak. Mengingat, saat ini posisi dapur magma masih sangat dalam.

Untuk itu pihaknya mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan menghindari radius 3 km dari puncak gunung, karena ada ancaman lontaran material vulkanik saat erupsi.

Baca Juga:  Temuan 119 Amunisi Senjata di Yogya, Sempat Dikira Mainan

Sementara Komandan Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Wahyu Pristiawan menyatakan , meskipun dampak letusan yang berupa debu vulkanik dan hujan pasir tak sampai menerpa wilayah DIY, namun warga di sekitar lereng Merapi tetap disiapsiagakan.

Pihaknya mengklaim bahwa sejauh ini masyarakat sudah dilatih mitigasi bencana, melalui desa/kampung siaga bencana maupun Desa/Kampung Tanggap Bencana. Termasuk di Kawasan Rawan Bencana (KRB) Merapi.

Penanganan bencana erupsi Merapi pada tahun 2010 lalu menjadi bentuk keberhasilan masyarakat dalam menerapkan mitigasi bencana.

Baca Juga:  Basmi DBD di Sleman Libatkan Siswa SD

Hanya saja, Pristiawan mengaku khawatir, jika erupsi besar kembali terjadi di tengah masyarakat dan Pemda sedang dihadapkan pada bencana wabah Corona, maka proses yang sebelumnya sudah baik tersebut akan terganggu. Mengingat, konsentrasi penanganannya akan terpecah. (Rep-01)