Muhammadiyah, Donald Trump, dan Islamophobia

Foto: setkab.go.id

JAKARTA (kabarkota.com) – Terpilihnya pengusaha media dan properti, Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat pengganti Obama memunculkan reaksi di berbagai kalangan. Beberapa saat setelah terpilih, ratusan warga Amerika yang kecewa turun ke jalan. Bagaimana dengan nasib muslim di Amerika pasca terpilihnya Donald Trump?

Ketua Umum PP. Muhammadiyah, Haedar Nasir menjelaskan, kita tidak bisa ikut mempengaruhi pilihan rakyat Amerika. Karena sudah menjadi pilihan negara demokratis, negara manapun jika itu pilihan rakyat, maka itu cermin dari kehendak rakyat.

Baca Juga:  Muhammadiyah dan NU, Representasi Islam Indonesia sebagai Oase Dunia

“Selama sebelum dan selama masa kampanye, Trump dalam konteks dunia Islam dianggap sebagai representasi dari sosok yang Islamophobia, bahkan juga anti imigran, dan imigran itu konteksnya juga dari Timur Tengah dan kawasan lain yang identik dengan muslim,” kata Haedar, belum lama ini.

Namun menurut Haedar, umat Islam harus memiliki praduga baik terhadap Trump, bahwa di sebuah negara demokrasi sebesar Amerika, nilai-nilai demokrasi, HAM , dan hal-hal yang sudah menjadi pandangan keadilan universal.

Baca Juga:  Jelang Muktamar, Pemuda Muhammadiyah Gelar Kejuaraan Panahan 2018

“Kita percaya bahwa fenomena Islamophobia yang muncul ketika awal kampanye dan masa kampanye itu tidak menjadi kebijakan politik Amerika maupun politik luar negeri Amerika,” katanya.

Haedar berharap pada dunia Islam, khususnya Indonesia yang mayoritas Islam melalui Presiden Jokowi dan Menteri Luar Negeri RI, sebagaimana tata krama dunia untuk mengucapkan selamat dan menyampaikan harapan bahwa Indonesia sebagai negara muslim terbesar.

(muhammadiyah.or.id/Ed-02)