OBR: Menari, simbol Perlawanan kekerasan terhadap perempuan

Aksi One Billion Rising di kawasan titik nol km Yogyakarta, Minggu (15/2/2016) sore.(Januardi/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – One Billion Rising Yogyakarta melakukan kegiatan kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan di sepanjang Jalan Malioboro, Yogyakarta, Minggu (14/2). Kampanye yang bertemakan ‘Tubuhku, Revolusiku’ itu dilakukan oleh puluhan orang dengan arak-arakan dan menari bersama.

“Mengapa kita menari? Karena menari merupakan simbol dari kebebasan,” kata koordinator riser Vania Sharleen.

Baca Juga:  Pemkot Yogya akan Susun Perwal Promosi Kesehatan Melalui Masjid dan Mushalla

Vania menyerukan semua orang untuk memiliki sikap politik dalam menentang segala bentuk kekerasan terhadap perempuan. Seruan itu diungkapkan mengingatkan tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan di dunia.

“Satu dari tiga perempuan di dunia mengalami kekerasan,” ujar dia.

Kekerasan yang dialami mulai dari kekerasan fisik, mental, hingga seksual.

Koordinator acara, Ignatia Glory mengatakan, kekerasan terhadap perempuan juga tinggi di DIY. Forum Perlindungan Korban Kekerasan DIY mencatat, sepanjang tahun 2013-2015, telah terjadi 1.433 kekerasan perempuan dan anak perempuan.

Baca Juga:  Layanan publik tak baik, audit sosial diperlukan

“Komnas Perempuan mencatat, 35 perempuan Indonesia mengalami kekerasan setiap harinya,” kata Ignatia.

Sehari sebelumnya, Arsih Sunarsih dari Yayasan Satu nama menuturkan, kesadaran orang Indonesia terhadap pentingnya membela keamanan perempuan masih rendah. Hal tersebut dapat terlihat dengan masih kentalnya budaya patriarki di tanah air.

“Angka kematian ibu muda di Indonesia itu tertinggi se ASEAN. Kita bahkan kalah dari Vietnam,” ujar Arsih, dalam diskusi Beranda Perempuan di Fakultas Teknik UNY. (Ed-03)

Baca Juga:  Wapres akan Hadiri Temu Jaringan Saudagar Muhammadiyah di Yogyakarta

Kontributor:Januardi