Orang Dengan Skizofrenia sering Kambuh, Ini Pemicunya

Ilustrasi (nationalgeographic.co.id)

YOGYAKARTA  – Orang Dengan Skizofrenia (ODS) yang merupakan salah satu jenis gangguan jiwa berat sering kambuh meskipun telah mendapatkan penanganan medis, di Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Ronny dari Pusat Studi Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan (KPMAK) UGM mengatakan, selama ini biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan ODS lebih banyak untuk non pengobatan sehingga mengakibatkan beban yang sangat tinggi. Sementara, proses penyembuhan yang dilakukan cenderung hanya menghilangkan gejalanya saja, bukan proses rehabilitasi bagi mereka.

Menurut Ronny, semestinya, proses penyembuhan bagi ODS tidak hanya berhenti pada hilangnya gejala saja, tetapi juga dengan mencitakan individu yang berdaya, mandiri dan kualitas hidupnya lebih baik, melalui proses rehabilitasi yang didukung banyak pihak.

Ketua Seksi Skizofrenia Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), AAAA Kusumawardhani menjelaskan, Skizofrenia adalah kondisi penderita gangguan jiwa yang mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau dan perubahan perilaku.

Gejala skizofrenia, lanjut Dyah, dibagi dalam dua kategori, yakni positif dan negatif.

“Gejala negatif menggambarkan hilangnya sifat dan kemampuan tertentu yang biasanya ada dala diri orang normal. Sedangkan gejala positif menggambarkan tanda-tanda psikomotorik yang muncul dalam diri seseorang akibat menderita skizofrenia,” paparnya.

Pihaknya menambahkan, penanggulangan masalah kesehatan jiwa seperti ini tidak bisa hanya pengobatan fisik, tetapi juga rehabilitasi psikiatrik, psikososial dan sosial, agar mereka dapat kembali produktif dan berguna di masyarakat.

Meski begitu, menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalan Masalah Keswa-Napza Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Fidiansjah Mursyid, data tersebut hanya fenomena gunung es. Terlebih, dari sisi pembiayaan, belum secara utuh berpihak pada ODS. (Tria/ Ara)