Pak AR, Figur Zuhud yang Dirindukan

Bedah Buku “Pak AR yang Zuhud Memimpin Umat dengan Islam yang Menggembirakan,” di Yayasan AR Baswedan Yogyakarta, Jumat (12/7/2019).

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Fenomena sosial dan politik di Indonesia, akhir-akhir ini menuntut masyarakat mencari oase baru tentang figur-figur.

Mengingat, Peneliti di Jusuf Kalla School of Government Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Paryanto mengatakan, ketika melihat pada sejarah, situasi saat ini seperti kembali pada roda kehidupan politik era demokrasi terpimpin pada kurun waktu tahun 1955 hingga lengsernya Bung Karno.

Menurutnya, sosok Abdur Rozaq (AR) Fachrudin atau akrab disapa Pak AR menjadi figur yang mulai dirindukan di tengah kontestasi sosial politik seperti sekarang.

“Bangsa ini membutuhkan figur-figur, termasuk figur pak AR, kata Paryanto dalam Bedah Buku “Pak AR yang Zuhud Memimpin Umat dengan Islam yang Menggembirakan,” di Yayasan AR Baswedan Yogyakarta, Jumat (12/7/2019).

AR Fachrudin mulai muncul ke permukaan dan perlahan bekiprah menjadi elit Muhammadiyah, dengan masuk dalam jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada periode 1959 – 1962 sebagai anggota tambahan. Kemudian pada Muktamar tahun 1962 – 1990 di Yogyakarta, Pak AR terus menerus terpilih dalam 13 jajaran PP Muhammadiyah.

Menurutnya, ada tiga alasan mengapa bangsa Indonesia perlu mentransformasikan “Pak AR Way” dalam kehidupan sosial dan politik Indonesia. Pertama, pola kehidupan Pak AR yang zuhud, sederhana, dan low profile. Kedua, background politik dan pengalaman lintas budaya. Ketiga, gaya kepemimpinan dan komunikasi Pak AR yang genuine dan apa adanya.

“Selain pengalaman dalam gerakan dakwah dan pendidikan, Pak AR juga memiliki pengalaman sebagai politisi dan birokrat Negara,” ungkapnya.

Pak AR, sebut Paryanto, juga dikenal sebagai pribadi yang zuhud dan penuh welas asih. “Pak AR dalam memilih jalan hidup sufistik ini di kemudian hari diposisikan sebagai seorang Kyai yang memiliki karomah,” sebutnya.

Sementara penulis buku, Mochammad Faried Cahyono merasa perlu menulis buku tersebut bersama Yuliantoro Purwowiyadi meskipun sosok Pak Ar yang populer dan begitu terkenal sudah banyak ditulis. Namun, pihaknya mencoba menggali sisi lain yang belum banyak diungkap ke publik.

“Kami menonjolkan fakta-fakta Pak AR sebagai seorang pemimpin, tanpa mengurangi porsi kesantrenan beliau,” jelasnya.

Dalam buku setebal 148 halaman ini, pihanya menulis tentang bagaimana masa kecil, tumbuh, berkembang, berkarya, hingga wafat, dengan meninggalkan warisan dan pesan kepemimpinan. (Rep-02)