PAPI Mahasiswa UGM bisa Cari Titik Api Kebakaran

Pesawat tanpa awak ciptaan mahasiswa UGM (ugm.ac.id)

SLEMAN (kabarkota.com) – Salah satu kendala penanganan kebakaran hutan di sejumlah wilayah selama ini adalah terkait kesulitan dalam mencari lokasi titik api yang harus dipadamkan petugas penanggulangan bencana. Akibatnya, persoalan tersebut belum dapat dipecahkan oleh pemerintah Indonesia. Padahal, asap dari kebakaran hutan itu seringkali mengganggu hingga ke negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura.

Hal itu yang mendorong sejumlah mahasiswa UGM untuk membuat sebuah alat yang dapat membantu petugas penanggulangan bencana kebakaran hutan untuk memantau titik api sumber kebakaran. Alat yang dimaksud berupa  moda pesawat tanpa awak (UAV) yang diberi nama “PAPI”.

Ketua tim pengembang PAPI, Ariesa Budi Zakaria mengatakan, pesawat jenis ini memiliki konfigurasi sayap fixed-wing yang terletak di bagian atas badan pesawat. Selain itu juga dilengkapi dengan misi monitoring dengan metode live streaming video.

“PAPI ini memiliki keunggulan dibanding UAV pencari titik api lain yaitu pada antena dapat memancarkan sinyal lebih kuat dibandingkan antena buatan pabrik,” jelasnya seperti dilansir laman UGM, Senin (13/6/2016).

Antena berbentuk patch berfrekuensi 5,8 Ghz  ini, menurutnya mereka ciptakan sendiri, dengan sinyal kuat sehingga kualitas video yang diterima ground station lebih baik dan jarak tempuh wahana pesawat juga menjadi lebih jauh.

Tak hanya itu, lanjutnya, bobot PAPI cenderung lebih ringan dengan ukuran hanya 1,5×1 m. Dengan begitu, mobilisasi pesawat lebih praktis.

“Kamera yang digunakan sebagai FPV juga dapat diganti menyesuaikan misi yang harus diselesaikan,” imbuhnya.

Pengembangan PAPI ini dilakukan Ariesa bersama dengan dua rekannya dari Fisipol, yakni Bunga Addinta Swandari dan Nurlita Prima Regiati. PAPI dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) UGM.

Ariesa menjelaskan sebelum pesawat dioperasikan, terlebih dulu pihaknya menjalankan  program ground station  untuk misi yang harus diselesaikan oleh PAPI. Setelah itu, wahana dapat PAPI diluncurkan hanya dengan lemparan tangan karena bobotnya yang ringan.

“Selama menjalankan misi, pergerakan wahana selalu dipantau oleh live video streaming yang dihubungkan ke ground station. Saat misi monitoring dinyatakan selesai, maka wahana dapat secara otomatis kembali ke ground station,” terangnya.

Dengan adanya PAPI ini, pihaknya berharap, petugas penanggulangan bencana tidak perlu lagi terjun langsung ke dalam hutan untuk mencari lokasi titik api karena dapat langsung memantau ground station melalui video streaming.

Lokasi titik api dapat ditentukan dengan melihat pola asap yang ditangkap oleh kamera PAPI. Hal ini dapat meminimalkan risiko jatuhnya korban jiwa dari armada penanggulangan bencana kebakaran hutan yang bertugas.

“Kami juga ingin mengembangkan agar video streaming yang ditangkap PAPI dapat disaksikan melalui smartphone,” harapnya. (Rep-03/Ed-03)