Pasca Aksi Bela Islam II, Ini Temuan Menarik Tim Medis GNPF MUI

JAKARTA (kabarkota.com) – Aksi Bela Islam II yang diselenggarakan oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) dan melibatkan ratusan ribu umat Islam di Jakarta, Jumat (4/11/2016) berlangsung damai, meski akhirnya diwarnai kericuhan pada malam hari. Polisi melepaskan tembakan gas air mata ke arah peserta aksi dan ulama-ulama yang sedang berorasi.

Ketua Tim Medis GNPF MUI, Saleh menegaskan, tembakan gas air mata oleh pihak kepolisian kemungkinan lebih berbahaya dari ketentuan seharusnya. Menurutnya, efek gas air mata itu ada di tiga tempat.

Baca Juga:  Menjaga Semangat Kebangsaan (3)

“Mata berupa perih dan tidak mampu melihat, saluran napas berupa pembengkakan dan kesulitan bernapas, dan saluran makanan berupa mual dan pusing,’ ungkap Saleh dalam rilisnya yang diterima Kabarkota, Senin (7/11/2016).

Saleh menjelaskan, banyak pertolongan Allah dalam Aksi Bela Islam tersebut. Banyak korban yang datang dalam kondisi kejang-kejang, tapi berkat bantuan Allah, mereka menjadi tenang saat disebut nama Allah.

“Di lapangan kita dibantu oleh banyak petugas dari berbagai organissi. Ada MER-C dan yang lain. Rumah Sakit Budi Kemuliaan juga luar biasa jasanya. Menjadi tempat menampung korban. RS. Budi Kemuliaan menjadi tempat Rumah Sakit perjuangan,” jelas Saleh.

Baca Juga:  Posko Bersama THR 2019 di DIY Segera Dibuka

Mabes Polri memiliki penjelasan sendiri terkait kerusuhan yang terjadi saat aksi damai di depan Istana Negara beberapa hari lalu. Kadiv Humas Polri Boy Rafli menjelaskan bahwa tidak ada penggunaan senjata api saat polisi membubarkan aksi massa.

“Diputuskan untuk langkah-langkah pembubaran. Dengan menembakkan gas air mata, seperti suara ledakan senjata. Bukan senjata api, tapi pelontar gas air mata,” ungkap Boy dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Sabtu (5/11/2016).

Baca Juga:  KP BPD KPR Yogya Kecam Intimidasi Golput

Boy memastikan bahwa aparat tetap melakukan upaya-upaya persuasif sesuai perintah Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Bahwa petugas dalam mengamankan Demo 4 November tidak boleh membawa senjata api.

(Ed-04)