Pedasnya Mie Des Khas Pundong Bantul

Mie des produksi Sulami (dok. kabarkota.com)

BANTUL (kabarkota.com) – Datang ke Yogyakarta, kurang lengkap rasanya kalau tak sekalian “berburu” kuliner. Sebagai salah satu destinasi wisata kuliner, Yogyakarta memang memiliki beragam jenis makanan khas di masing-masing wilayah.

Salah satu kuliner khas yang bisa dinikmati ketika berada di Bantul adalah mie des. Dinamakan mie des karena rasanya yang pedas dan juga gurih. Biasanya, mie ini dibuat dalam dua warna, ada yang kuning dan putih.

Selain itu, berbeda dengan mie pada umumnya, jenis bakmi ini juga memiliki tingkat kekenyalan yang lebih dibandingkan mie pada umumnya. Meskipun kekenyalannya tinggi, bukan berarti menggunakan bahan pengawet, melainkan terbuat dari sari pati ketela. Dan karena tanpa bahan pengawet, mie des hanya bisa bertahan maksimal 24 jam.

“Pati ketela itu kalau diencerkan dengan air panas maka akan menciptakan adonan mie yang kenyal alami,” jelas Sulami, salah satu produsen mie des di Pundong, Bantul, kepada kabarkota.com.

Untuk membuat mie ini, lanjut Sulami, prosesnya cukup sederhana. Pertama-tama, ketela yang telah dikupas kemudian diparut lalu diendapkan selama sehari-semalam untuk mendapatkan sari patinya. Langkah selanjutnya, sari pati ketela dijemur sampai menjadi tepung kemudian diencerkan dengan air panas, dibuat adonan hingga kalis kemudian digiling membentuk mie lalu dibumbui dan diberi sedikit minyak goreng supaya tak lengket satu sama lain. Setelah itu, direbus lalu tiriskan hingga dingin.

Dalam sehari, Ibu dua anak yang sudah memproduksi mie des sejak tahun 1983 ini membuat mie des 25 – 40 kg per hari untuk dijual di pasar Niten Bantul. Per 1 kg, untuk mie yang belum dibumbui, ia jual seharga Rp 25 ribu. Sedangkan, untuk mie des dijual Rp 30 ribu per kg.

Selain bisa dinikmati dengan sambal, mie des juga bisa diolah dengan beragam variasi, seperti mie des rebus ataupun dengan toping sayuran dan telur ceplok, bahkan bisa juga dibuat spageti, dan kolak yang manis.

Sebagai inovasi, Sulami bersama paguyuban mie des “Sri Loka” kini juga memproduksi mie des kering yang bisa bertahan setahun dalam kemasan. Produknya ini tak hanya dipasarkan di wilayah DIY saja, tapi juga ke luar daerah, seperti Kalimantan dan Palembang. Mie des kering buatan Sulami dan kawan-kawan serofesinya ini juga pernah dikirim ke Perancis.

Bukan hanya Sulami yang memproduksi mie des, tapi lebih dari 90% warga di dusun Nangsri, Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, DIY ini juga membuat mie jenis ini. Jadi, buat kalian yang suka makanan pedas, bisa datang ke daerah ini untuk icip-icip mie des. (Rep-01)