Penembakan 2 Jurnalis di Virginia, Ini Langkah yang akan Ditempuh Gedung Putih

Ilustrasi (sumber: internasional.kompas.com)

Washington DC (kabarkota.com) – Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama menyatakan akan melakukan pengendalian senjata api yang lebih ketat, pasca kasus penembakan terhadap dua jurnalis di negara bagian Virginia, Amerika Serikat, Rabu (26/8) kemarin.

"Kami rela menghabiskan triliunan dolar untuk mencegah aktivitas terorisme, tapi kami belum mau menggunakan setidaknya akal sehat dalam pengendalian senjata api," kata Obama seperti dikutip BBC Indonesia, Kamis (27/8).

Sebelumnya, Seorang pria bernama Vesten Flanagan yang diketahui sebagai mantan karyawan stasiun TV tempat korban bekerja menembak mati reporter WDBJ7, Alison Parker dan juru kamera Adam Ward, dalam sebuah siaran langsung di Televisi.

Baca Juga:  Calon Pewaris Takhta Kerajaan Inggris ini Berdinas Militer di Australia

Flanagan yang dipecat sejak 2013 lalu merasa sakit hati  karena merasa didiskriminasikan dan tertindas. Manajer stasiun televisi Jeff Marks, Flanagan adalah "pria yang tidak bahagia". Bahkan, harus mendapatkan pengawalan saat keluar dari gedung WDBJ7 ketika itu.

Insiden penembakan terjadi ketika Parker tengah melakukan wawancara langsung dengan seorang bintang tamu tentang turisme di kota Moneta.Tiba-tiba terdengar tembakan dan para penonton melihat kamera jatuh ke lantai. Terdengar juga teriakan dan kamera sempat menunjukkan sekilas sosok penembak.

Baca Juga:  PSKP UGM: Pemulangan WNI eks ISIS perlu Pertimbangkan banyak Aspek

Beberapa jam kemudian, si penembak mengunggah rekaman dirinya menembak dalam jarak dekat ke internet. Rekaman-rekaman ini kemudian dihapus, dan pelaku juga sempat melakukan percobaan bunuh diri sebelum akhirnya diamankan aparat kepolisian setempat.

Pelaku pun sempat mengirimkan fax 23 halaman ke ABC News dengan menggunakan nama profesionalnya, Bryce Williams. Dalam fax itu ia menyebut kemarahannya 'terbangun terus' dan sudah menjadi 'tong bubuk mesiu berjalan' dan 'menunggu saatnya meledak!!!' itu lantaran ia mengaku mengalami perlakuan rasisme dan homofobia di tempat kerja.