Pengakuan Mantan Pimpinan Geng Anak Muda Yogya

Ilustrasi (tria/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Akhir-akhir ini sebagian masyarakat Yogyakarta resah dengan adanya pesan berantai, baik melalui messengers maupun media sosial tentang adanya geng-geng anak muda yang gemar melakukan tindak kekerasan, khususnya di malam hari.

Namun, bagi Fuad Andreago, mantan pimpinan geng terbesar di DIY, pada Era 1997 – 2003, keberadaan geng-geng anak muda di masa sekarang sudah jauh berbeda dengan komplotan anak muda di masa lalu.

“Dulu, anggota geng bisa mencapai ribuan orang dan memiliki markas yang jelas. Sekarang, umumnya hanya kelompok-kelompok kecil dan abal-abal,” sebut dia saat dihubungi kabarkota.com, Kamis (16/10).

Ia juga menganggap, anak-anak muda yang sedang mencari jati diri, atau mengalami krisis kepercayaan cenderung mudah terjebak dalam kenakalan remaja seperti itu.

“Karakter diri bawaan, lingkungan yang buruk, salah pergaulan, terlalu banyak atau kekurangan uang, dan juga kurang perhatian dari keluarga,” ungkap eks pimpinan GMX ini.

Sementara ditanya terkait adanya isu berbagai kekerasan yang terjadi akibat ulah geng, seperti Raden Kian Santang (RKS), dan Klithih akhir-akhir ini, Fuad menduga, pesan berantai yang tersebar itu hanya akumulasi dari kejadiani-kejadian yang seolah dilakukan oleh geng-geng tersebut. Padahal sebenarnya terpisah.

“Isu-isu tentang kekerasan yang muncul akhir-akhir ini sebenarnya mempunyai nilai-nilai positif,” anggap dia.

Mengingat, selama ini pembuat onar atau pelaku kekerasan dan vandalisme yang mayoritas masih remaja selalu dilepas oleh pihak berwajib, dengan dalih tersangka masih di bawah umur. Padahal, tindakan mereka liar dan merugikan pihak lain.

“Terlepas isu itu berkembang dengan sendirinya ato sengaja dibuat, aparat penegak hukum menjadi punya alasan kuat untuk menindak mereka dengan tegas,” imbuhnya.

Pola-pola seperti ini, sebut Fuad, biasanya dilakukan oleh intelejen, lantaran melihat tingkat keliaran mereka sudah mengkhawatirkan. Salah satu cara yang paling efektif, yakni dengan menjadikan mereka sebagai public enemy (musuh masyarakat).
Dengan begitu, kewaspadaan masyarakat akan meningkat, dan aparat penegak hukum memiliki alasan untuk menindak tegas perilaku liar mereka.

Oleh karena itu, bapak tiga anak ini juga berpesan, agar anak-anak muda tidak mudah terjebak dalam geng, maka perlu memilih hoby dan komunitas yang baik sebagai penyaluran jiwa muda mereka.

Ia mencontohkan, dengan mengikuti seni beladiri. Sebab, selain menyehatkan juga bisa ditekuni untuk meraih prestasi.

Selain itu, mereka juga harus tetap dekat dengan keluarga, serta bisa menjalin komunikasi yang baik dengan lingkungan sekitarnya.

“Masa muda itu cuma sekali manfaatkan sebaik mungkin, lakukan apa yang kamu suka, tetapi jangan berbuat kriminal, dan jauhi minuman keras, serta narkoba,” pinta pria 29 tahun ini.

Jika sampai terjebak, maka 10 tahun dari sekarang, mereka akan lebih menyesal terhadap apa-apa yang telah terjadi di masa mudanya.

SUTRIYATI