Penyebab Anak “Bodoh” Itu Ternyata dari Orang Tua

anak pintar
anak pintar

YOGYAKARTA (kabarkota.com) –  Proses mengantarkan anak-anak kita ke jenjang kehidupan yang lebih baik selalu menjadi perhatian dan tanggungjawab setiap orangtua.

Setiap orangtua pasti mendambakan seorang anak yang cerdas. Asumsi kebanyakan orang tua, anak cerdas itu yang pintar matematika, atau hal-hal lain yang berhubungan dengan science.

Makanya tidak heran, kalo orang tua bangga banget, punya anak jadi dokter, insinyur, pilot da sebagainya. Sampai-sampai predikat anak jenius disematkan ke anak yang pintar matematika atau fisika.  Sehingga, sisi kecerdasan lain dari anak tak terlihat.

Perhatian itu juga muncul dalam beragam dialog, terutama sejak Carol Dweck mengumumkan risetnya menyangkut ratusan anak pandai.

Baca Juga : Penyebab Anak Menjadi Bodoh, Hindari 6 Makanan Ini

Diantara anak-anak tersebut ternyata lebih takut tidak dapat nilai bagus di sekolah, ketimbang dalam kehidupan itu sendiri. Di banyak negara termasuk Indonesia, kental sekali pandangan bahwa “Siapa yang sukses di sekolah pasti akan sukses dalam kehidupan.” Benarkah demikian?

Penemuan ini diuji pada Seratus Anak Pandai dan menurut psikolog Dweck saat mengolah hasil eksperimennya di mancanegara yang responsnya konsisten. Begitu diberi soal yang sedikit lebih sulit, anak-anak pandai menolak untuk mengerjakannya. “Ini belum diajarkan,” ujar mereka.

Ternyata Hanya sedikit di antara anak-anak pintar di sekolah yang merasa tertantang,”Oh.. I love challenges and difficulties,” ujar Dweck menirukan anak-anak itu. Temuan Dweck itu sekaligus menimbulkan perhatian bagi para scientist tentang dua hal yang saling berhubungan: mind and brain. Keduanya ada di kepala manusia, namun bekerjanya sangat berbeda.

Brain bisa diobservasi, diangkat, dioperasi, atau difoto. Tetapi mind tidak. “Brain adalah jejaring material yang menghubungkan sel-sel otak melalui synaps dan reaksi-reaksi biokemikal. Sedangkan mind adalah suatu aliran ‘subjective experience’ dalam kehidupan masing-masing individu.

Ia terbentuk melalui suatu pengalaman yang menyakitkan, menyenangkan, penuh tantangan, kekecewaan, kemarahan, atau sesuatu yang menggetarkan,” ujar Guru Besar Hebrew University–Israel, Yuval Noah Harari.

Para biologist mengasumsikan the brain membentuk the mind, dan reaksi-reaksi biokemistri di otak melahirkan getaran-getaran sel otak. Hanya saja, belum bisa dijelaskan bagaimana mind dibentuk oleh brain.

Kebingungan Harari dijawab oleh Dweck dalam “The New Psychology of Succcess”. Meski mind tidak dapat diobservasi melalui lensa mikroskop, Dweck dapat memahaminya melalui eksperimen psikologis.

Anak-anak pandai yang dikumpulkan Dweck mayoritas memiliki mindset fixed, yang diklaim orangtua sebagai berlaku tetap dan abadi. Maksudnya, sekali dinilai pandai, mereka akan abadi sebagai manusia berbakat atau cerdas dan bisa cepat menyelesaikan bermacam problem.

Namun, Dweck menemukan fakta baru. Begitu diberi tantangan, kesulitan, kritik, atau saat menghadapi orang-orang yang lebih berhasil, reaksi anak-anak tersebut negatif.

Takut menghadapi tantangan, apalagi mendapat nilai jelek, dan kecewa kalau mendengar orang lain lebih dari mereka. Perbedaan itu tampak dalam effort (usaha, pengorbanan) yang dituntut untuk sedikit lebih susah.

Penyebabnya, anak-anak pintar tersebut selalu dipuji. Mereka dianggap lebih cepat bisa dan mudah memahami ketimbang yang lain. Kebiasaan ini menjadikan mereka kurang memiliki skill dalam berjuang, cepat bosan, dan kurang terlatih menghadapi tantangan. Petemuan IMF-WB di Bali Perbincangan tentang anak-anak dan masa depan suatu bangsa menjadi menarik.

Kelemahan-kelemahan mendasar dalam sistem pendidikan harus segera ditangani. Kelemahan siswa dalam berpikir scientific dan literasi matematika tidak bisa terus dibiarkan. Semua ini tentu tak lepas dari menarik atau tidaknya profesi guru di samping masalah kesejahteraan.

Sudah barang tentu, dialog-dialog ini relevan bagi para pendidik. Sebab, banyak hal telah berubah. Dan Carol Dweck telah menujukkan pentingnya memberi ruang bagi anak dalam menjelajahi tantangan.

Jangan sampai terjadi lagi peristiwa yang sudah sering kita saksikan, tatkala teman-teman kecil kita yang dulu begitu pandai, kini entah berada di mana. (Ar-01)