Peredaran obat ilegal terungkap, mata rantai terputus?

Ilustrasi (liputan6.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Terungkapnya kasus peredaran obat-obatan ilegal dalam skala besar di Banten, baru-baru ini, menambah panjang daftar catatan buruk di dunia kesehatan tanah air, pasca kasus vaksin palsu yang hingga kini juga belum tuntas penyelesaiannya.

Dalam ungkap kasus oleh tim gabungan Bareskrim Polri dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 2 September 2016 lalu, puluhan juta butir dari enam jenis obat keras berhasil disita, dengan nilai sekitar Rp 30 milyar. Keenam jenis obat itu adalah trihexyphenidyl dan heximer yang merupakan obat antiparkinsan, tramadol sebagai obat antinyeri , carnophen dan somadryl untuk nyeri otot, serta dextrometorpan sebagai obat batuk.

Baca Juga:  Ditanya soal akun Twitter, Ini Jawaban Sultan

Namun, terungkapnya kasus peredaran obat ilegal itu tak membuat jera sebagian pihak untuk tetap menjalankan bisnis jual-beli obat-obatan yang masuk dalam daftar penyitaan tersebut. 

Berdasarkan penelusuran kabarkota.com, Jumat (9/9/2016), salah satu penjual produk obat keras secara online mengaku, dirinya sengaja melakukan transaksi jual beli hanya melalui dunia maya. Sebab, selain produk yang dijual merupakan obat keras yang stoknya terbatas, ia juga menyatakan pernah dua kali tertangkap, saat melakukan transaksi secara langsung.

Melalui laman blognya, penjual yang mengaku sebagai seorang apoteker ini juga memberikan kesempatan kepada para netizen yang ingin turut mengembangkan bisnis serupa, dalam untuk jangka panjang.

Baca Juga:  Babak Baru UIN: Senat UIN Yogya Bantah Menteri Agama

Untuk obat jenis tramadol dibandrol seharga Rp 850 ribu per pot yang berisi 1.000 tablet, Heximer 2mg Rp 600 ribu per pot, trihexenidil holy Rp 150 ribu per box, somadryl com Rp 80 ribu per strip, dan dextrometopan Rp 600 ribu per pot.

Tak hanya itu, di lapak online-nya, ia juga menjajakan berbagai jenis obat lainnya, termasuk obat untuk terlambat datang bulan. Setelah transaksi disepakati, ia akan mengirim barang pesanan konsumen, langsung dari Jakarta.

Baca Juga:  Mahasiswa UGM Rancang Fondasi Bangunan Tahan Gempa dari Per

Tak hanya penjualan melalui online, seorang apoteker yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Yogyakarta saat dihubungi kabarkota.com, Kamis (8/9/2016) juga mengaku masih menyediakan obat jenis tramadol dan trihexyphenidil untuk pasien.

“Dulu tramadol dan trihexi masuk ke psikotropika tapi sekarang dimasukkan ke obat prekusor. Penggunaannya juga diawasi dan dilaporkan ke dinas karena sering disalahgunakan,” jelasnya.

Sementara untuk Dextrometophan dalam bentuk sediaan tunggal, menurutnya sudah lama ditarik. Namun dalam bentuk kombinasi, masih tetap diperbolehkan untuk digunakan. (Rep-03/Ed-03)