Pro Kontra Penutupan Sarkem, MUI DIY setuju Sarkem ditutup, hanya saja…

Ilustrasi (kompasiana.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Pro dan kontra soal wacana penutupan wilayah Pasar Kembang (Sarkem) Yogyakarta yang selama ini dikenal sebagai lokasi prostitusi terselubung mulai bermunculan, pasca penggusuran kawasan Kalijodo, Jakarta yang juga disebut-sebut menjadi tempat lokalisasi di ibu kota Jakarta, baru-baru ini.

Sekretaris Umum MUI DIY, Ahmad Muhsin Kamaludiningrat saat ditemui wartawan di UGM, Selasa (8/3/2016) menyatakan, pada prinsipnya pihaknya setuju jika aktivitas yang berkaitan dengan prostitusi ditutup, apa pun bentuknya. Hanya saja ia juga menganggap bahwa tidak semua penghuni sarkem saat ini adalah para Pekerja Seks Komersial (PSK).

Baca Juga:  Idul Adha, Warga LDII Doakan Warga yang tertimpa Bencana di Lombok

“Apakah pasar kembang itu lokalisasi? Tentang orang-orangnya yang melakukan prostitusi itu memang harus diambil (ditertibkan), sebab di sana bukan kawasan prostitusi,” kata Ahmad.

Imam masjid Gedhe Kauman Yogyakarta ini juga berpendapat, penghilangan prostitusi merupakan komitmen yang sudah sejak lama dibuat karena tidak sesuai dengan ajaran agama apa pun. Namun tindakan lain selain penggusuran yang bisa ditempuh adalah melalui jalur hukum

Baca Juga:  Pembubaran Acara AJI Berujung Desakan Evaluasi Kinerja Kapolda DIY

“Orangnya harus dihukum atau setidaknya diberi nasehat dan dididik di panti-panti sosial,” pintanya. (Rep-03/Ed-03)