Prodi Tertentu Memang Butuh Syarat Khusus

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Adanya indikasi perlakuan diskriminatif terhadap kaum penyandang disabilitas dalam SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) 2014, mendapatkan tanggapan berbagai pihak. Termasuk Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Kadisdikpora) DIY,  Baskoro Aji, saat ditemui wartawan, Selasa (11/3).
 
“Kalau tidak boleh karena fakultas atau prodi tertentu memang memerlukan persyaratan khusus, saya bisa memahami,” kata Baskoro di ruang kerjanya.

Baca Juga:  Ini Pengalaman Siswi Difabel asal Kulon Progo saat di Virginia

Ia mencontohkan, psikologi yang tidak boleh buta warna atau kimia yang menuntut banyak praktik. Sehingga membahayakan mahasiswa penyandang disabilitas tertentu. Maka, kata Baskoro, hal tersebut memang harus diterapkan.
 
“Kalau perbedaannya karena itu, saya memahami. Itu termasuk untuk melindungi mereka dalam mendapatkan pekerjaan,” tambahnya lagi.

Namun, jika larangan mengikuti SNMPTN karena ketunaan mereka, tegas Baskoro, tidak dibenarkan.
 
Senada dengan Kadisdikpora DIY, Wakil Dekan I UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sekar Ayu Aryani, kepada kabarkota.com mengatakan, ada sejumlah program studi (prodi) yang memang mensyarakatkan tidak tuna netra atau buta warna. Sebab, hal tersebut justru akan membahayakan mereka sendiri.
 
Antara lain Sekar menyebutkan, fisika, kimia, biologi, teknik informatika, dan teknik industri. “Itu untuk keselamatan mereka,” jelasnya.
 
Dalam berita kabarkota.com 7 Maret disebutkan, Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB) secara tegas menolak diskriminasi dalam SNMPTN 2014. Dalam aturan SNMPTN yang diunggah dalam website resmi, panitia mensyaratkan agar calon peserta seleksi tidak tuna netra, tidak tuna rungu, tidak tuna wicara, tidak tuna daksa, tidak buta warna keseluruhan, dan tidak buta warna keseluruhan maupun sebagian. (tya)

Baca Juga:  Siswa Berkebutuhan Khusus Tak Kesulitan Ikuti UN

SUTRIYATI