Remaja Disabilitas Masih Memandang Tabu Soal Ini

Ilustrasi (aisyiyah.or.id)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi (kespro) terhadap remaja penyandang disabilitas masih minim.

Direktur Sentra Advokasi Perempuan, Difabel, dan Anak (SABDA), Nurul Saadah Andriani mengatakan, pendidikan kespro masih dianggap tabu untuk diajarkan kepada remaja disabilitas. Padahal, remaja disabilitas memiliki hasrat yang sama dengan remaja non disabilitas dalam hal seksualitas.

Padahal menurutnya, fakta di lapangan menunjukan bahwa banyak remaja disabilitas yang salah dalam memaknai arti seksualitas. Hal itu diakibatkan penjelasan seksual yang mereka terima seiring salah.

“Permasalahan utamanya adalah mainstream di masyarakat yang menganggap remaja disabilitas tidak memiliki hasrat seksual. Padahal kenyataannya, mereka memiliki hasrat itu. Banyak orang tua yang bingung menjelaskan tentang seksual ketika anak remaja disabilitas menunjukan hasrat seksualnya,” ucap Nurul saat launching buku panduan Kesehatan Seksual dan Reproduksi Remaja dengan Disabilitas, di UC UGM, Selasa (16/2/2016).

Baca Juga:  Warga Kota Yogya Kini bisa Urus Akte Kelahiran Lewat Ponsel

Hal tersebut, lanjut Nurul, diperparah dengan belum adanya layanan publik yang aksesibel terhadap remaja disabilitas. Di sekolah formal, masih dianggap tabu untuk membicarakan soal seksualitas. Kebanyakan orang tua juga yang masih marah ketika anaknya diajarkan tentang seksualitas.

“Saat ini belum ada layanan kesehatan yang aksesibel bagi remaja disabilitas. Yang ada itu program untuk remaja non disabilitas,” kata Nurul.

Layanan kesehatan untuk disabilitas, tambah Nurul, tidak harus ekslusif. Tapi memiliki fasilitas yang spesifik untuk melayani penyandang disabilitas.

Baca Juga:  Oktober, Kawasan Tanpa Rokok di Kota Yogya Diberlakukan

“Selama ini, puskesmas sering memisahkan layanan untuk disabilitas. Seharusnya mereka tidak perlu dipisahkan, tapi puskesmas memiliki fasilitas yang mampu untuk melayani semua orang, termasuk penyandang disabilitas,” ucapnya

Sementara itu, aktivis gender dan Kespro, Mukhotib MD juga berpendapat, inti dari persoalan kespro remaja disabilitas adalah informasi tentang seksual.

Ia menuturkan, banyak kisah tentang aktivitas seksual remaja disabilitas yang membuat orang terenyuh.

Baca Juga:  Ini Motif Pelaku Penyayatan di Yogya

“Ada seorang murid disabilitas yang menunjukan hasrat seksual pada gurunya. Namun gurunya malah menyuruh murid tersebut mengalihkan pada benda lain. Ini konstruksi seksualitas yang sangat memprihatinkan. Karena guru tidak tahu bagaimana memberikan penjelasan pada anak disabilitas,” kata Mukhotib, yang juga salah seorang tim penulis buku Kesehatan Seksual dan Reproduksi Remaja dengan Disabilitas.

Untuk itu, ia mengajak semua pihak agar kritis terhadap kebijakan pemerintah yang menghimbau agar jangan ada perlakuan diskriminatif pada disabilitas. (Ed-03)

Kontributor: Januardi