Rumah Indonesia usulkan Pembentukan Tim Independen untuk Menelusuri Penyelenggaraan Pemilu 2019

Audiensi Rumah Indonesia dengan anggota Bawaslu DIY, Kamis (2/5/2019). (dok. kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Banyaknya korban pesta demokrasi lima tahunan yang digelar serentak pada 17 April 2019 lalu telah mengundang keprihatinan banyak pihak. Termasuk di dalamnya guru besar dari sejumlah Perguruan Tinggi di Yogyakarta yang tergabung dalam Rumah Indonesia.

Sebagai bentuk keprihatinan, Rumah Indonesia mendatangi kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DIY untuk menyampaikan berbagai aspirasi untuk masukan bagi penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) ke depan.

Anggota Rumah Indonesia, Ni’matul Huda mengatakan, perlu adanya evaluasi dari pemerintah atas penyelenggaraan Pemilu 2019 yang juga menyebabkan ratusan orang petugas penyelenggara, pengawas, dan pengamanan Pemilu meninggal dunia dan ribuan orang lainnya jatuh sakit.

“Kami mengusulkan pembentukan tim independen untuk menelusuri penyelenggaraan Pemilu kemarin yang menimbulkan korban banyak sekali,” kata Ni’ma kepada wartawan di Kantor Bawaslu DIY, Kamis (2/5/2019).

Menurutnya, tim independen ini penting untuk memberikan klarifikasi kepada masyarakat, terkait apa yang sebenarnya terjadi di balik banyaknya korban dalam pesta demokrasi di tahun 2019 ini. Sekaligus untuk memberikan masukan untuk penyelenggaraan Pemilu ke depan, tanpa jatuhnya korban.

Pihaknya juga berharap, pemerintah memberikan penghargaan bagi petugas ad hoc Pemilu yang tertimpa musibah tersebut. Selain itu, Rumah Indonesia mengajak semua pihak untuk merawat kembali persatuan bangsa, pasca Pemilu.

Di akhir audiensi, Rumah Indonesia bersama Bawaslu DIY menggelar doa bersama dan mengibarkan bendera setengah tiang di halaman kantor Bawaslu DIY. Pengibaran bendera setengah tiang ini sebagai tanda berkabung bagi para korban demokrasi.

Menanggapi aspirasi Rumah Indonesia tersebut, Ketua Bawaslu DIY, Bagus Sarwono mengaku, pihaknya mengapresiasi atas perhatian dan dukungan yang diberikan oleh Rumah Indonesia tersebut. Terlebih, ajakan untuk merawat kembali persatuan bangsa pasca Pemilu, sehingga harapannya tak ada lagi polarisasi antarpendukung Caprea 01 dan 02.

“Bagaimana desain Pemilu ke depan ini supaya tidak mengorbankan satu nyawa pun. Ini menjadi PR bersama,” jelas Bagus.

Sementara terkait korban dari kalangan pengawas Pemilu di DIY, Bagus menambahkan, berdasarkan data sementara ada 27 petugas yang jatuh sakit. Namun, sebagian dari mereka kini sudah bisa beraktivitas kembali.

Terkait santunan sebagaimana yang dijanjikan pemerintah, Bawaslu DIY masih menunggu petunjuk teknis dari Bawaslu RI, setelah turunnya Surat Edaran dari Menteri Keuangan. (Rep-01)