Sasra Sahastri: Batiknya Santri Milenial

Batik karya Iffah M. Dewi saat ditampilkan dalam Jogja International Batik Binnale 2018. (dok. istimewa)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Batik adalah salah satu warisan budaya kebanggaan Indonesia yang sudah diakui dunia. Meskipun beberapa negara tetangga juga memproduksi kain batik, namun batik karya nusantara memiliki ciri khas berbeda, karena sarat akan filosofi dan sangat beragam motifnya.

Salah satunya, karya designer asal Yogyakarta, Iffah M. Dewi yang ditampilkan dalam Jogja International Batik Binnale 2018, baru-baru ini. Pada peringatan Hari Batik Nasional yang juga hampir berbarengan dengan perayaan Hari Santri Nasional, Iffah melalui brand Sogo Batik, menciptakan Sasra Sahastri, yang khususnya didedikasikan untuk para muslimah muda.

Menurutnya, batik merupakan tehnik menciptakan motif dengan canthing atau cap, dan menggunakan malam/lilin. Motif batik menjadi media untuk menyampaikan pesan-pesan yang penuh hikmah, kearifan lokal yang menjadi identitas bangsa Indonesia, juga sebagai mensyiarkan Quran dan hadits dengan cara yang ramah.

Ia juga menjelaskan, Sasra Sahastri berarti santri milenial. Dengan mengusung motif Canting Aman, Sipat dan Nalain Shareef, pihaknya ingin menyampaikan pesan bagaimana menjadi seorang santri atau pembelajar yang baik di tengah era disrupsi, di mana terjadi banyak perubahan fundamental atau mendasar, dengan adanya evolusi teknologi di celah kehidupan manusia.

“Sasra Sahastri, sebuah ajakan bagi kita semua untuk terus menjadi pembelajar yang bijak dalam menghadapi perubahan, berTaqwa , menjauhi larangan-Nya dan menjalankan perintah-Nya berkepribadian teguh di tengah pengaruh keterbukaan informasi yang tak berbatas. Menjadi agen perdamaian, menghomati orang lain atau Hablum Minannas, apapun madzhab, golongan, agama, budayanya,” jelas Iffah dalam siaran pers yang diterima kabarkota.com, 7 Oktober 2018.

Pertama, sebut Iffah, motif Canthing Aman yang digambarkan dengan Canthing dan kepala canthing membentuk sayap.

“Canthing untuk menuliskan motif. Hendaknya kita menuliskan kebaikan demi kebaikan di buku amal. Sayap adalah simbol harapan, berharap dimampukan untuk menerbangkan manfaat bagi bagi umat,” jelasnya.

Kedua, motif Sipat atau Sirih Empat menggambarkan daun sirih dengan berbagai manfaat. Sekaligus sebagai simbol nasehat 4 akhlaq seorang muslim bagi saudaranya. Yakni, menutup aib, menjaga silaturrahim, memaafkan dan mendamaikan perselisihan.

Ketiga, motif Nalain Shareef yang terinspirasi dari sandal Nabi Muhammad SAW, dengan harapan umat Islam bisa mengikuti jejak Nabi.

“Harapan kami, Batik dapat makin disukai oleh masyarakat Indonesia maupun dunia, di dalam prosesnya melibatkan sumber daya manusia lokal sehingga sangat baik untuk pondasi perekonomian lokal Indonesia,” ucapnya. Terlebih, motif batik juga penuh dengan nilai-nilai universal, sehingga mudah diterima masyarakat dunia dan menjadi sarana menyebarkan pesan pesan kebaikan. (Ed-03)