Sejumlah Wilayah di Sepanjang Sungai Code dan Winongo Ini Rawan Longsor

Ilustrasi (sutriyati/kabarkota.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Peneliti dari Tim Mitigasi Bencana Fakultas Teknik (FT) UGM, Wahyu Wilopo memetakan, sejumlah wilayah di sepanjang sungai Code dan Winongo terancam tanah longsor, utamanya saat puncak musim hujan yang diperkirakan terjadi pada bulan April ini.

Dosen dari Departemen Teknik Geologi FT UGM ini menyebutkan, sejumlah wilayah yang dimaksud, antara lain, Pogung-Sendowo-Blimbingsari-Gondolayu-Kotabaru dan Sungai Winongo meliputi daerah Tegalrejo sampai Bugisan.

Survei deteksi ancaman longsor di sepanjang sungai tersebut menunjukkan bahwa wilayah di sekitar bantaran sungai Code dan Winongomempunyai tingkat kerentanan longsor yang tinggi karena sebagian besar tebing sungai memiliki lereng yang cukup curam dan tersusun oleh endapan yang belum terkompaksi secara baik. 

“Gerusan dari aliran air sungai juga mengikis pada bagian kaki tebing bisa mengurangi kestabilan lereng ditambah dengan banyaknya pemukiman yang berada di atas tebing sehingga menambah berat lereng,” Wahyu seperti dilansir laman UGM, baru-baru ini.

Selain itu, lanjutnya, saluran pembuangan limbah rumah tangga dari warga juga kurang sesuai dan banyak dibuang langsung ke dalam tanah atau ke lereng yang akan memicu adanya erosi tebing. Padahal idealnya, jarak pemukiman dari tebing adalah sama dengan ketinggian tebing, sehingga bisa menjaga kestabilan lereng dalam jangka panjang.

Untuk itu Wahyu berpendapat, guna mencegah terjadinya longsoran, maka perlu penguatan lereng, baik di kaki tebing maupun tebingnya sendiri. Pihaknya mencontohkan, dengan pembuatan bronjong pada kaki tebing sungai yang berfungsi untuk mengurangi erosi sungai dan sebagai penahan tebing bisa juga dengan talud dengan perbandingan kemiringan 1:1. Selain itu, dengan teras minimal 2 meter serta ketinggian maksimum 5 meter dan dilengkapi saluran drainase dengan jarak antar lubang maksimal 2 m dengan diameter minimal 2 inci.  

Selain itu, lubang drainase harus dikontrol agar tidak tersumbat, misalnya dengan meletakan lapisan ijuk pada intake saluran di dalam lereng. Termasuk, perbaikan saluran pembuangan limbah rumah tangga yang kedap air dan salurannya sampai pada tubuh sungai. 

Menurutnya, penataan penggunaan lahan diatas tebing merupkan hal sangat penting untuk mengurangi risiko terjadinya longsor. Kegiatan pembangunan rumah tidak boleh berada di dekat tebing dan dihindari bangunan bertingkat untuk mengurangi beban tebing.

Pemerintah setempat, pinta Wahyu, juga perlu mengecek kembali saluran-saluran drainase di tebing atau lereng untuk memastikan tidak terjadi sumbatan dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Bila terjadi retakan sebaiknya segera ditutup dengan material kedap ataupun terpal sehingga air tidak bisa masuk ke dalam tanah dan masyarakat bisa mengungsi ke tempat yang lebih aman pada waktu hujan turun sampai kondisi betul-betul aman, sebab longsor bisa terjadi tidak hanya pada waktu turun hujan tetapi setelah turun hujan.

“Pengamatan retakan juga perlu dilakukan secara teratur sehingga bisa diantisipasi langkah-langkah untuk mengurangi tingkat kerugian,” ujarnya.

Pada 12 Maret 2016 di wilayah bantaran Sungai Winongo maupun Sungai Code terjadi banjir secara tiba-tiba.  Di sisi lain, bencana longsor juga terjadi di wilayah Jogoyudan, Gowongan, Jetis, Yogyakarta atau tepatnya berada di sisi barat dinding Sungai Code atau 30 meter sebelah selatan dari jembatan Gondolayu. (Rep-03/Ed-03)