Sekaten 2019 tanpa Pasar Malam

Sekaten 2019 tanpa Pasar Malam

Jumpa pers tentang Perayaan Sekaten 2019 di kompleks Keraton Yogyakarta, Kamis (3/10/2019). (dok. kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Keraton Yogyakarta akan segera menggelar Sekaten 2019. Namun, pada Sekaten tahun ini dipastikan tak akan disertai dengan pasar malam di alun-alun utara Yogyakarta.

Pengageng KHP kridhomardowo, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro berdalih, peniadaan pasar malam tersebut pada dasarnya merupakan keinginan dari Sri Sultan Hamengku Buwono X.

“Ngarso Dalem (Sultan) memang sudah dawuh bahwa alun-alun itu kalau setiap tahun dipakai untuk pasar malam, itu tidak akan pernah bisa bagus. Jadi coba dilakukan dua tahun sekali,” jelas Penanggung jawab Pertunjukan Sekaten 2019 ini kepada wartawan, di kompleks Keraton Yogyakarta, Kamis (3/10/2019).

Terlebih, lanjut KPH Notonegoro, pasar malam sebenarnya bukan bagian dari rangkaian sekaten itu sendiri, meskipun namanya Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS). Dalam sejarahnya, sebenarnya pasar malam itu inisiatif Belanda untuk memecah perhatian rakyat terhadap pesan-pesan syiar agama dan semangat melawan kolonial Belanda pada waktu itu yang disisipkan dalam sekaten.

Wakil Ketua Panitia Sekaten 2019, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara juga menambahkan, tujuan dari peniadaan pasar malam itu sekaligus untuk mengembalikan semangat Sekaten yang selama ini sudah cenderung dilupakan.

Sekaten Digelar 9 Hari, Target 35 Ribu Pengunjung

Sedangkan terkait penyelenggaran sekaten, putri bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X ini menjelaskan, rangkaian acara sekaten akan dimulai pada 1 – 9 November 2019, dan Gerebeg Maulud akan dilaksanakan pada 10 November 2019.

Kegiatan bertemakan Sri Sultan Hamengku Buwono I itu akan dipusatkan di Pagelaran Keraton dan Masjid Gedhe Kauman. Adapun rangkaian kegiatannya ada dari pameran Sekaten yang akan memamerkan Kanjeng Kyai Tandhu Luwak dan Kanjeng Kyai Quran yang ditulis pada awal berdirinya Kerajaan Mataram Islam di Yogyakarta.

Rangkaian kegiatan lainnya berupa berbagai perlombaan bertema seni budaya keraton, pertunjukan tari-tarian karya Sri Sultan Hamengku Buwono I, dan berbagau tenant kuliner yang jumlahnya tak akan lebih dari 20 tenant.

“Pada tahun ini, kami menargetkan 35 ribu pengunjung selama sembilan hari sekaten digelar,” tegasnya. (Rep-01)