Sering Berbenturan dengan Masyarakat, Ini Harapan Mahasiswa untuk Proyek Pemerintah

Ilustrasi: aksi damai Gestob di kawasan taman parkir Abubakar Ali Yogyakarta, Jumat (19/2/2016) sore. (sutriyati/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Berbagai proyek pembangunan yang digagas pemerintah, baik tingkat pusat maupun daerah seringkali berbenturan dengan penolakan warga terdampak.

Sebut saja rencana pembangunan bandara baru di wilayah Kulon Progo, yang hingga kini masih menuai protes dari warga yang tergabung dalam Wahana Tri Tunggal (WTT). Selain itu, masih di Kulon Progo juga ada rencana pembangunan mega proyek tambang pasir besi yang ditolak mentah-mentah oleh Paguyuban Petani Lahan Pasir (PPLP).

Baca Juga:  Warga Terdampak Bandara di Kulon Progo Inginkan Relokasi Gratis

Menyikapi permasalahan tersebut, seorang mahasiswa Yogyakarta yang tergabung dalam Gerakan Solidaritas Tolak Bandara (Gestob), Romi menyayangkan langkah pemerintah yang ingin melakukan percepatan pembangunan ekonomi nasional tapi justru merampas hak-hak masyarakat terdampak.

“Kami dari mahasiswa melihat hal itu miris, proses pembangunan bandara yang mengatasnamakan masyarakat tapi tidak izin kepada warga hingga muncul penolakan,” kata Romi kepada kabarkota.com jelang aksi damai Gestob di kawasan Taman Parkir Abu Bakar Ali Yogyakarta, Jumat (19/6/2016) sore.

Baca Juga:  Diberhentikan Sepihak, Pekerja Media Bernas Ziarah ke Makam Udin

Menurutnya, proyek pembangunan bandara baru tersebut belum tentu akan mensejahterakan rakyat di Kulon Progo nantinya.

“Semestinya pemrintah bisa melihat kondisi struktur masyarakat, apa yang menjadi potensi kuat, itu yang dikembangkan sebagai pendukung proses percepatan ekonomi,” harapnya.

Aksi longmach yang digelar Gestob di kawasan Malioboro Yogyakarta kali ini sebagai bentuk solidaritas terhadap 16 korban warga sipil Kulon Progo atas tindakan represif oknum aparat saat pengukuran patok di sekitar lokasi yang akan dibangun Bandara, pada 16 Februari lalu.

Baca Juga:  Busyro Sebut Pencatutan Nama Muhammadiyah dalam aksi Teror Akademisi itu Level PAUD

Selain meneriakkan orasi-orasi sembari membentangkan berbagai spanduk bernada protes, serta mengusung replika keranda ditutup kain brrwarna hijau bertuliskan “Tanah untuk Rakyat” itu, para demonstran juga menggelar aksi teatrikal yang menggambarkan represifitas aparat terhadap warga sipil. (Rep-03/Ed-03)