Serunya Berebut Gunungan Besar di Halaman Masjid Kauman Yogya

Berebut gunungan di halaman masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Rabu (22/8/2018). (sutriyati/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Hal yang paling dinanti-nanti dalam setiap perhelatan gerebeg keraton Yogyakarta adalah saat berebut gunungan di pelataran Masjid Gedhe Kauman. Seperti halnya yang terlihat pada Rabu (22/8/2018), ketika Keraton menggelar gerebeg Besar, guna memperingati Idul Adha 1439 H.

Sejak usai salat id hingga jelang siang, masyarakat yang tak hanya datang dari kota Yogyakarta, tapi juga luar daerah hingga turis manca negara sudah berkerumun di sekitar regol Masjid Gedhe Kauman, menunggu kedatangan para prajurit keraton yang mengusung gunungan untuk diperebutkan warga.

Sekitar pukul 11.00 WIB, yang dinanti-nanti tiba di halaman masjid gedhe, empat gunungan yang terdiri dari satu gunungan ‘kakung’ (laki-laki) dan tiga gunungan putri (perempuan), setelah sebelumnya diarak dari keraton Yogyakarta. Selain empat gunungan itu, ada tiga gunungan lagi yang dibawa ke Puro Pakualaman dan Kompleks Kepatihan Yogyakarta.

Usai dibacakan doa oleh imam masjid Gedhe, Ahmad Muhsin Kamaludiningrat, keempat gunungan langsung jadi ‘rayahan’ (rebutan) ratusan masyarakat. Tak terkecuali anak-anak muda dan para wisatawan dari luar negeri.

Bagi sebagian orang, memaknai rayahan itu sebagai “ngalap berkah” atau dalam bahasa Indonesia maknanya meraup berkah dari sang Raja. Seperti yang dilakukan Raharjo, salah satu warga Yogyakarta. Ia bersama istrinya memunguti serpihan-serpihan ketan kering warna-warni yang berserakan usai gunungan habis diperebutkan.

“Ini nanti untuk disimpan, dan sebagian kami goreng untuk dimakan,” ucapnya kepada kabarkota.com.

Tak hanya Raharjo yang memunguti serpihan-serpihan ketan karena tak kebagian saat gunungan diperebutkan, seorang turis dan anak kecil juga melakukan hal yang sama, meskipun sebenarnya mereka tak memahami makna dari “ngalap berkah” itu.

Sementara, seorang warga asal Aceh, Ihsan juga mengaku tak tahu dengan adanya mitos-mitos di masyarakat Jawa terkait adanya rayahan gunungan dari Keraton Yogyakarta ini.

“Saya kebetulan pas datang ke sini, dan lihat ada gunungan, lalu ikut berebut. Tapi, ini untuk apa ya?” tanya Ihsan.

 

 

Menurut sejarah sebagaimana yang dilansir channel GununganKratonJogja di Youtube, gunungan yang biasa disaksikan pada saat Garebeg sejatinya merupakan perlambang sedekah raja.

Sedekah yang dibagikan itu terdiri atas berbagai hasil bumi yang dibentuk menyerupai gunung sebagai wujud kekuatan dan lambang doa. Perwujudannya juga dapat diartikan sebagai lambang kesuburan karena terdapat Gunungan Kakung dan Gunungan Putri.

Pada masa pra-Islam, tradisi ini sudah berlangsung di Jawa dengan nama Upacara Rajaweda. Sedangkan pada masa Kerajaan Demak, tradisi ini tetap dilestarikan dengan beberapa penyesuaian.

Hingga kini Keraton Yogyakarta tetap meneruskan tradisi ini untuk memperingati Idul Fitri (Garebeg Sawal), Idul Adha (Garebeg Besar), dan Maulid Nabi (Garebeg Mulud). Ssbab, ini dianggap sebagai bukti kebijaksanaan leluhur yang mengajarkan agama tanpa menghilangkan budaya sebelumnya. (sutriyati)