Sisi Lain Go-Jek yang Bikin Takjub Sekaligus Was-was

Ilustrasi (sutriyati/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Keberadaan angkutan umum menjadi salah satu kebutuhan masyarakat, dan Yogyakarta adalah salah satunya. Seiring berjalannya waktu dan pesatnya perkembangan teknologi di era digital, turut mempengaruhi gaya hidup masyarakat, dalam mengakses transportasi publik.

Kini, masyarakat dimanjakan dengan berbagai layanan transportasi publik, karena dengan sistem online, layanan jasa transportasi tersebut bisa diakses kapan saja dan di mana saja. Bahkan, para penyedia layanan berlomba-lomba jemput bola, demi memberikan kepuasan bagi pelanggannya.

Sementara kondisi bertolak belakang terjadi pada operator angkutan umum konvensional yang pelan tapi pasti kehilangan banyak pelanggan, karena sebagian besar dari penumpang lebih memilih transportasi online untuk mendukung aktivitas mereka.

Mantan Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DIY, Agus Ardianto yang kini menjabat Direktur PT Jogja Tugu Trans (JTT) yang mengoperasikan bus Trans Jogja ini mengungkapkan bahwa sejak 10-15 tahun terakhir, terjadi penurunan penumpang bus-bus trayek, taxi, dan ojek konvensional

“Kehadiran Ojol (Ojek online) pasti memengaruhi (penurunan penumpang), tidak hanya di Trans Jogja, tapi juga taxi, dan angkutan perkotaan lainnya. Apalagi AKDP. Ojol itu sekarang menjadi AKDP berbadan kecil,” kata Agus kepada wartawan di kantor DPRD DIY, baru-baru ini.

Selain itu, lanjut Agus, penurunan penumpang angkutan umum juga terpengaruh semakin banyaknya kendaraan pribadi di Yogyakarta, saat ini.

Go-Jek, Fantastis tapi Bikin Was-was?

Di lain pihak, Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI), pada Oktober – Desember 2017 lalu melakukan Survei tentang Dampak Go-jek terhadap Perekonomian Indonesia. Survei ini mengambil sampel 3.315 mitra pengemudi, 806 mitra UMKM, dan 3.464 konsumen Go-Jek di sembilan wilayah. Kesembilan wilayah yang dimaksud adalah Bali, Balikpapan, Bandung, Jabodetabek, DIY, Makassar, Medan, Palembang, dan Surabaya.

Dari hasil Survei yang dilakukan oleh tim LD FEB UI itu tercatat, kehadiran layanan transportasi online karya anak bangsa ini telah memberikan kontribusi Rp 9.9 Triliun bagi pertambahan ekonomi di Indonesia. Dari jumlah itu, sumbangan terbesar dari mitra pengemudi sebesar Rp 8.2 Triliun, dan sisanya mitra UMKM Rp 1.7 Triliun. Angka yang terhitung fantastis, mengingat, Go-Jek baru mulai beroperasi di Indonesia pada 9 Juni 2010 atau dengan kata lain, jauh lebih muda dibandingkan angkutan-angkutan umum lainnya.

Hasil survei juga memaparkan kehadiran layanan transportasi online bentukan Nadiem Makarim ini memberikan dampak positif bagi mitra pengemudinya yang rata-rata bisa berpenghasilan Rp 3,31 juta per bulan. Tak mengejutkan jika kemudian banyak orang dari berbagai latar belakang ekonomi berbondong-bondong untuk bergabung sebagai mitra Go-Jek.

LD FEB UI mengungkapkan, 78% mitra pengemudi memilih bergabung karena mereka memiliki tanggungan keluarga. Dilihat dari umur, 77% pengemudi berusia 20-40 tahun, dan 15% dari mereka merupakan lulusan Perguruan Tinggi/Sekolah Tinggi.

Bagi mitra UMKM, 82% mengaku mengalami peningkatan volume transaksi usahanya, sejak bergabung sebagai member Go-Food yang merupakan bagian dari fitur layanan Go-Jek, di bidang kuliner.

Sedangkan bagi masyarakat, Survei ini mengklaim bahwa 89% konsumen juga merasakan dampak positif. Mereka merasa puas (99%), nyaman (98%), dan aman (96%). Rata-rata usia konsumen, 77% berumur 20-39 tahun, dan mayoritas adalah pelajar SLTA (96%).

Sumber: LD FIB UI

Salah satu mitra pengemudi Go-Jek di Yogyakarta, Theresia Suciati mengamini bahwa kehadiran aplikasi transportasi publik ini mampu membantu mendongkrak penghasilannya. Perempuan yang sebelumnya menjadi penjual sayuran keliling ini mengatakan, dalam sehari dirinya bisa mendapatkan penumpang sekitar 15 orang. Dari situ, ia mengaku meraup penghasilan sekitar Rp 200 ribu per hari.

“Penghasilan itu bisa untuk mencukupi kebutuhan kami,” kata Theresia yang bergabung di Go-Jek sejak setahun terakhir.

Namun, sisi negatifnya, perempuan yang mengaku single parent ini pernah mendapatkan pelecehan seksual dari oknum penumpangnya. Tak jarang, ia juga menemui penumpang yang kebanyakan tuntutan, yang menurutnya tak sebanding dengan bayarannya.

Karenanya, Theresia juga berharap, pihak Go-Jek bisa memberikan perhatian lebih bagi mitra drivernya, tetutama dalam hal perlindungan dalam bentuk asuransi dan sejenisnya. Mengingat, pekerjaan sebagai driver sangat rawan mengalami kecelakaan di jalanan.

Retna Mudiasih, sebagai salah satu konsumen layanan Go-Food selama 2-3 tahun terakhir mengaku cukup diuntungkan dengan kehadiran layanan tersebut, karena relatif praktis dan aman. (sutriyati)