Suara Rakyat Suara Tuhan: Catatan untuk Aksi 212

Oleh: DR. Yasraf Amir Piliang, akademisi dan pakar Ilmu Komunikasi

Aksi Bela Islam III 2 Desember 2016, yang dihadiri hampir 7 juta orang, oleh pihak-pihak tertentu dicap sebagai aksi anti-demokrasi. Ada pula yang menudingnya sebagai gerakan radikal. Media Barat menyebutnya sebagai gerakan Islam Garis Keras. Bahkan, ada yang mengaitkannya dengan gerakan terorisme. Akan tetapi, tak ada yang menyadari, bahwa aksi terbesar dalam sejarah bangsa itu adalah wujud dari demokrasi yang sejati.

Aksi Bela Islam III yang menyuarakan tuntutan hukum bagi Ahok sang penista agama, tak dapat ditandingi oleh aksi-aksi lain atas nama kebangsaan, kebhinekaan, persatuan dan kesatuan, yang hanya dihadiri ratusan atau ribuan orang. Semua suara itu tentu adalah “suara rakyat”. Akan tetapi, ada perbedaan di sini. Yang satu suara rakyat dalam jumlah sangat besar, yang lain jumlah kecil; yang satu menyuarakan suara manusia an sich, yang lain menyuarakan suara rakyat atas nama “Suara Tuhan”; yang satu suara profan, yang lain sakral.

Lalau kita bertanya, siapakah yang “memanggil” jutaan orang dari seluruh pelosok tanah air ini datang ke Jakarta. Apakah karena kepentingan, keuntungan, popularitas? Atau, karena sebuah kekuatan lain? Menurut kata bijak filsuf, ideologi yang memanggil (interpellate) individu menjadi “subjek’, yaitu orang yang merasa “terpanggil” untuk menjadi bagian dari sebuah simbol, bahasa, konsep, ajaran atau keyakinan. Akan tetapi, panggilan ideologi politik adalah panggilan yang dilandasi “pamrih”, yaitu harapan tersalurkannya kepentingan.

Baca Juga:  Tengok Cucu Pertama, Ini Kata Mengharukan yang Diucapkan Presiden Jokowi

Ribuan orang dari Ciamis dan Bogor yang menantang jarak, melawan waktu, menahan lapar, dan mengabaikan rasa sakit, melakukan long march ke Jakarta, tidak “dipanggil” oleh kepentingan duniawi apa-apa, selain oleh kecintaan pada ayat suci Al-Qur’an, oleh kekuatan iman, oleh cahaya Tuhan. Jutaan orang dari seluruh pelosok negeri—melampaui batas-batas suku, profesi, umur, atau jender—semua terpanggil oleh panggilan yang sama: menuntut keadilan demokratis atas nama Tuhan! “Suara Tuhan” yang memanggil mereka.

Demokrasi kita secara de jure adalah demokrasi kuat nuansa ketuhanan, yang dimanifestasikan melalui sila pertama Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa. Akan tetapi, secara de facto, wajah demokrasi kita resisten terhadap suara Tuhan itu. Kita sendiri yang menanggalkan suara Tuhan itu dari sistem demokrasi, dengan menilai demokratisasi hanya dari kualitas-kualitas manusia an sich: ketegasan, keterampilan, meritokrasi, profesionalitas, dan meminggirkan ajaran Tuhan.

Baca Juga:  Dokumen Lengkap, Bawaslu Kulon Progo Siap Hadapi Gugatan Peserta Pemilu

Dalam setiap pesta demokrasi kita sering menyebut vox populi vox dei (suara rakyat suara tuhan), di mana suara rakyat merupakan artikulasi untuk, penyerahan bagi, dan manifestasi dari kekuatan Tuhan. Akan tetapi, hanyut oleh sistem demokrasi sekuler Barat, kini kita sendiri yang mencabut suara Tuhan itu dari demokrasi, dengan menjadikan pikiran manusia sebagai ukuran absolut demokrasi, dan membiarkan penghina Tuhan jadi pemimpin. Vox populi vox dei kini hanya menjadi jargon, menjadi kata-kata kosong tanpa fakta

Wajah buruk demokrasi kita justeru menista kehendak Tuhan (ayat, ajaran, keyakinan), mencabut nilai-nilai tradisi (kesantunan, keadaban, keutamaan), melawan hukum alam (kepalsuan, pencitraan, ketamakan, kerakusan). Demokrasi yang tercabut dari suara Tuhan ini mempromosikan sifat-sifat keakuan, kekasaran, kerakusan, ketamakan, keangkuhan, kesombongan, kebencian, kebebalan, kepalsuan, selera rendah dan mediokritas budaya. Demokrasi yang dilandasi nilai luhur keadaban (civility), kini diambilalih demokrasi tuna-adab.

Karenanya, Aksi Bela Islam III hendaknya dilihat bukan sebagai bentuk radikalisme seperti yang dituduhkan, akan tetapi sebaliknya sebagai manifestasi dari demokrasi sejati, yaitu demokrasi yang di dalamnya nafas ketuhanan ditunjukkan dalam gerak-gerik dan tindak demokratis: vox populi vox dei. Inilah demokrasi yang mampu membangun secara nyata, nilai kedamaian, keimanan, persamaan (equality), kebersamaan, persaudaraan, keutamaan, keteraturan, disiplin tinggi, kebersihan, dan tanggungjawab. Inilah demokrasi berkeadaban (civilized democracy).

Baca Juga:  Lagi, Ketua Komisi VII DPR Ditetapkan Tersangka oleh KPK

Aksi Bela Islam III menjadi saksi, bahwa kekuasaan Tuhan dapat menggerakkan “kekuatan” demokrasi, sebagai sebuah kekuatan dahsyat. Di sinilah kekuatan iman dapat melawan segala halangan, membangun kekuatan dahsyat umat, menggalang persatuan bangsa, meruntuhkan segala batas sosial. Di sini pula kekuatan doa dari orang-orang terpilih, atas kekuasaan Tuhan, dapat mengubah gerak-gerik dan perilaku alam. Inilah yang terjadi, bila kekuatan “iman” menjadi jembatan antara manusia dan Tuhan: vox populi vox dei.

 

Sumber: Facebook resmi Yasraf Amin Piliang