Sumarna, Pejuang Petani Lahan Pasir dari Bantul

Sumarna, petani lahan pasir di Bantul (sutriyati/kabarkota.com)

BANTUL (kabarkota.com) – Hidup sebagai petani di dekat pesisir membuat Sumarna, warga Dusun Sogesanden RT 77, Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, DIY, harus berpikir keras. Lahan pasir yang membentang luas di dekat bibir pantai selatan itu, sangat sulit diberdayakan karena tanaman mudah rusak akibat terjangan gelombang pasang ataupun terpaan uap air laut.

Namun, desakan ekonomi dan keinginan untuk menyelamatkan lahan pasir dari kerusakan mendorong Sumarna untuk berinovasi guna “menghidupkan” pertanian di lahan pasir, khususnya di dekat Pantai Samas Bantul.

Sumarna muda, yang ketika itu masih duduk di bangku SMA sering membantu orang tuanya bertani, dan melihat kenyataan bahwa mengembangkan pertanian di lahan pasir tak memberikan hasil yang maksimal. Terlebih di wilayah tersebut terdapat muara buntu yang setiap tahun selalu menjadi bencana bagi petani, karena luapan air yang merendam lahan-lahan pertanian di sekitarnya, seperti bawang merah, dan melon.

Keinginannya untuk bisa melanjutkan kuliah pun harus pupus karena terkendala biaya dan kemiskinan yang menjerat mereka. Pendapatan orang tuanya sebagai petani, ketika itu tak cukup membiayainya untuk melanjutkan studi. Tapi, hal itu tak lantas membuat bapak dua anak ini patah arang. Ia berusaha untuk memberdayakan lahan pasir untuk pertanian, namun merugi. Butuh waktu sekitar lima tahun bagi Sumarna untuk bisa meraup keuntungan dari hasil pertaniannya di dekat pesisir.

“Tahun keempat itu istri saya meminta untuk berhenti mengembangkan pertanian di lahan pasir, tapi saya tetap melanjutkan karena kerugiannya tiap tahun berkurang. Tahun kelima baru untung, setelah kami tahu formulasinya,” kata Sumarna kepada kabarkota.com, saat ditemui di kediamannya, 9 Agustus 2018.

Di tahun 1993, kembali tercetus ide membuat sistem irigasi shower untuk menyirami tanaman di lahan pasir. Lagi-lagi bukan tanpa hambatan, karena idenya membuat terobosan baru tersebut justru ditentang oleh sesama petani di sana.

Para petani yang saat itu sudah mendapatkan bantuan fasilitas alat dan embung dari pemerintah menganggap bahwa cara yang ditempuh Sumarna justru berdampak buruk bagi tanaman dan lahan mereka. Akibatnya, Sumarna yang tergabung di Kelompok Tani Manunggal dikucilkan oleh kelompoknya hingga tak diijinkan menggunakan fasilitas bantuan pemerintah untuk mengairi lahan.

Kondisi itu tak membuatnya kehabisan ide, dengan berbekal keyakinan dan modal yang terbatas, pria yang kini berusia 50 tahun ini tetap menerapkan sistem irigasi kabut, dengan membuat sumut pantek di sekitar lahan pasir

Namun, pada akhirnya Sumarna bisa membuktikan kepada para petani bahwa sistem irigasi buatannya mampu memematahkan anggapan buruk mereka selama ini. Termasuk salah satunya juga mampu menghemat penggunaan pupuk.

Melihat keberhasilan itu, petani yang awalnya mengucilkan Sumarna kemudian berbalik, dengan ikut memanfaatkan hasil temuan tersebut, dan justru meninggalkan fasilitas pemerintah.

“Kalau mereka menyirami 1000 meter itu butuh waktu dan tenaga 2-3 jam, dengan menggunakan sistem irigasi kabut, 1 jam sudah selesai dan hasil tanamannya lebih bagus,” klaim Sumarna.

Sumarna saat menunjukkan hasil pertaniannya di lahan pasir (dok. Istimewa)

Keberhasilan inovasi pertamanya, tak lantas membuat Sumarna berdiam diri, ia kemudian membuat light trap (lampu perangkap hama), dengan harapan bisa menanggulangi hama tanaman sehingga hasilnya lebih bagus lagi.

Tak puas dengan dua hasil karyanya itu, suami dari Boniyati ini kemudian mulai mengembangkan sistem irigasi baru yang kemudian ia sebut sebagai irigasi kabut, di tahun 2014.

Irigasi kabut ini merupakan sistem penyiraman tanaman dengan menggunakan air yang dipompa ke dalam pipa karet yang telah diberi lubang-lubang berukuran mikro. Pancaran air yang lembut itu ketika dilihat dari kejauhan dan terkena sinar matahari terlihat seperti kabut putih.

Pada tahun 2015, Sumarna yang mengembangkan sistem irigasi kabutnya di Kelompok Tani Pasir Makmur Bantul mendapatkan dukungan dari salah satu lembaga negara bidang keuangan. Hanya saja pihaknya mengaku, para petani sempat hampir menjadi korban penelitian, karena setelah petani menerapkan sistem pertanian sesuai Standar Operational Procedure (SOP), ternyata hasilnya gagal.

Belakangan diketahui bahwa kegagalan itu akibat kesalahan pengambilan sampel dari kelompok lain, yang menggunakan varietas benih lain yang kebutuhan pupuknya lebih banyak. Sementara, komposisi pupuk yang ditambahkan oleh para petani di kelompok itu tak dilaporkan ke pihak pendamping. Pihaknya juga menyayangkan karena pada akhirnya yang dipersalahkan adalah petani.

Dua tahun berproses dengan berbagai bentuk kegagalan, akhirnya di tahun 2016, sistem irigasi kabut mulai mendapat apresiasi positif.

Temuan ketiganya itu, sekaligus membuktikan bahwa menyirami tanaman di siang hari yang terik itu tidak baik karena bisa membuat tanaman mati adalah anggapan yang tidak selalu benar. Sistem irigasi kabut, lanjutnya, bisa diterapkan kapan saja dan tidak akan merusakkan tanaman, karena bisa mengendalikan suhu dan kelembaban tanahnya.

Dari hasil jerih payahnya itu, kini Sumarna memetik buah manisnya, dengan menyabet berbagai penghargaan, baik di tingkat kabupaten, provinsi maupun Nasional. Terakhir di tahun 2018 ini, Inovasinya mengantar ia mendapatkan penghargaan di bidang lingkungan hidup, berupa Kalpataru di tingkat provinsi DIY. Rencananya, dalam waktu dekat, sistem irigasi kabut juga akan dilombakan ke tingkat Nasional.

Di balik berbagai reward yang diterima atas perjuangannya itu, Sumarna masih menyimpan mimpi, agar pengembangan pertanian khususnya di wilayah pesisir selatan, semakin maju tanpa mengesampingkan kelestarian lingkungan sekitar. Termasuk juga adanya ketegasan dari pemerintah, agar alih fungsi lahan, tambak-tambak udang ilegal, dan penambangan pasir tak berijin segera dihentikan, karena berpotensi besar menimbulkan bencana untuk lahan pertanian di sana, akibat abrasi yang meluas.(sutriyati)