Tim Reformasi Tata Kelola Migas Disarankan Kerja Ekstra

Rektor Universitas Proklamasi 1945 Yogyakarta, Profesor Dawam Raharjo. (Dok. Ahmad Mustaqim)


SLEMAN (kabarkota.com) – Rektor Universitas Proklamasi 1945 Yogyakarta, Profesor Dawam Raharjo menyarankan Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas (Migas) untuk melakukan analisa guna lebih mengurai benang kusut dan membedah pengelolaan migas. Tugas ini, kata Dawam, menjadi berat karena persoalan itu sudah berjalan bertahun-tahun.

Dawam menjelaskan, pengelolaan Migas ini merupakan warisan yang berkaitan dengan interpretasi atas Pasal 33 UUD 1945. Interpretasi pemanfaatan sumber daya di Indonesia itu, katanya, ada tiga.

Baca Juga:  Disepakati, "Mobil Murah" Tidak Bisa Lagi Pakai BBM Bersubsidi

Pertama, Migas dikelola untuk dapat memenuhi konsumsi warga negara atau untuk konsumsi domestik. Kedua, melalui subsidi BBM digunakan untuk membangun infrastruktur agar perekonomian negara bisa berjalan lebih baik. "Maka dana itu dikelola oleh negara lewat APBN," kata Dawam di Universitas Proklamasi 1945 Yogyakarta, Selasa (2/12).

Kemudian, ia melanjutkan, untuk mengembangkan industri strategis. Gas merupakan salah satu sumber daya strategis yang bisa digunakan untuk membangun industri.

Menurut Dawam, penyebab berkurangnya produksi minyak domestik yang terjadi saat ini lantaran terjadi eksploitasi besar-besaran pada masa orde baru. Selain eksploitasi yang besar, Migas juga dijadikan jaminan untuk bisa menerima kredit luar negeri. Akibatnya terjadi eksploitasi besar-besaran.

Baca Juga:  Kerap Disorot Media, Menteri Susi Curhat di Facebook

Pihaknya mencontohkan, di Saudi Arabia perbandingan produksi dan konsumsi Migas, 1:30. Sementara, di Indonesia hanya 1:4. "Rasio itu rendah bukan hanya karena over eksploitasi, tapi juga karena cadangan tidak berkembang. Stagnan," kata dia.

Eksplorasi Migas, menurutnya, memang membutuhkan dana besar dan pemerintah tidak mampu menanggungnya sendiri serta sulit memperolah dana dari departemen keuangan. Akibatnya, komsumsi dalam negeri meningkat dari sekitar 500 ribu barel menjadi 1,6 juta barel.

Baca Juga:  Denny Indrayana jadi Kuasa Hukum Proyek Meikarta, Begini Sikap Aktivis Antikorupsi di Yogya

Ia pun meminta kerja ekstra apabila benar-benar ingin memberantas mafia Migas. "Mafia migas sangat powel full. Didukung kekuatan ekonomi dan politik," kata dia.

AHMAD MUSTAQIM